Archive for the ‘Uncategorized’ Category

REFRAKSI ATMOSFER

  • Distortion of sun & moon

Terjadi jika matahari (bulan) rendah di atas horizon, jalur cahaya melewati atmosfir sangat jauh, dan struktur atmosfir  berlapis lapis karena perbedaan gradien temperatur dan tekanan. Refraksi cahaya menyebabkan piringan matahari(bulan) berubah bentuk seperti di gambar di atas

  • Flattening of sun and moon

Gradien temperatur dan tekanan  di atmosfir menyebabkan berkas cahaya melengkung  Cahaya matahari atau bulan akan membias lebih mendekati horizon. Itulah sebabnya kenapa bulan atau matahari tampak agak mendatar.Cahaya dari piringan bagian bawah lebih banyak membias daripada bagian atas dan sudut vertikal dimana kita melihat bulan mengecil.

  • Green flash

Fenomena terjadi saat matahari berada di bawah horizon. Sudut  refraksi dari spektrum cahaya hijau sedikit lebih besar dari cahaya merah pada piringan atas. Akibatnya tepi piringan terlihat hijau kadang biru pada cuaca cerah.Fenomena ini dapat dilihat beberapa detik setelah  matahari terbenam namun sangat jarang walaupun melihatnya dengan alat teropong

  • Inferior mirages (land)

Bayangan sebuah benda yang terlihat berada dibawah benda tersebut. Biasanya bayangannya terbalik. Saat hari yang cerah dan panas, bayangan terlihat pada tanah yang datar, mis tanah yang baru dibajak, padang pasir. Langit direfleksikan ke tanah sehingga seolah olah seperti permukaan air

  • Inferior mirages (road)

Inferior mirage yang terlihat di jalan raya pada saat  hari cerah dan panas. Bayangan terlihat di bawah benda dan terbalik. Pemanasan di atas jalan menimbulkan gradien temperatur yang tajam  cahaya dibiaskan ke atas sehingga kita seolah olah berada di bawah jalan untuk melihat cahaya yang datang dari langit atau horizon. Dengan demikian mirage menyebabkan langit direfleksikan ke atas jalan sehingga seolah olah ada permukaan air

  • Inferior mirages (water)

Inferior mirage kadang juga terlihat di atas danau atau laut, karena permukaannya sangat luas dan datar. Di atas danau Markermeer dan IJsselmeer di Belanda, misalnya, inferior mirages sering terjadi.Mirage membuat  horizon kelihtan terangkat dan terbalik; kadang kadang bayangan bisa lebih kecil  ( stooping) atau lebih panjang (looming), kadang kadang besar bayangan sama dengan benda. Mirage terjadi karena  gradien temperatur di atmosfir; udara dingin di atas udara panas membiaskan cahaya  ke atas, sehingga melihat ke bawah untuk melihat cahaya  dari horizon atau langit.

  • Red flash

Red flash terlihat pada tepi bawah piringan matahari saat mendekati horizon melalui kondisi inversi temperatur yang kecil. Perlu teleskop untuk melihat fenomena ini secara jelas Pada saat hari panas, udara  kelihatan seperti mendidih, utamanya di atas permukaan yang sangat panas seperti jalan,dan atap bangunan. Fenomena ini disebut dengan  shimmering disebabkan oleh turbulensi udara panas yang kerapatannya berbeda dan juga indeks refraksinya. Perbedaan ini menyebabkan gelembung udara seperti lensa sehingga terjadi deviasi cahaya

  • Superior mirages

PREDIKSI GEMPABUMI

PREDIKSI GEMPABUMI

Prediksi gempabumi merupakan kegiatan yang sangat mengandung resiko sosial dibanding dengan prakiraan cuaca. Secara teoritis gempabumi merupakan gejala alam biasa oleh sebab itu sebelum peristiwa alam itu terjadi semestinya akan terdapat perubahan parameter fisis yang mendahuluinya atau yang disebut sebagai precursor. Yang menjadi masalah adalah secara operasional untuk melakukan pengamatan precursor ini memerlukan usaha dan dana yang tidak sedikit.

Dari banyak precursor itu diantaranya adalah hasil eksperimen di laboratorium menunjukkan bahwa sebelum terjadi gempabumi maka batuan di sekitarnya akan mengalami perubahan parameter-parameter seperti : tahanan listrik akan menurun, adanya perubahan stress dan strain, adanya fluktuasi unsur radon, perubahan permukaan air bawah tanah, perubahan suhu air bawah tanah, dan lain-lain.

Kegiatan prediksi gempabumi, mencakup tiga hal yaitu, kapan gempabumi akan terjadi, dimana terjadinya dan seberapa besar kekuatannya. Di Jepang kegiatan ini mulai dilakukan sejak tahun 1965 dimana dalam perencanaannya terdapat empat bagian, yaitu pengamatan untuk kegiatan prediksi jangka panjang, pengamatan untuk kegiatan prediksi jangka pendek, penelitian dasar, dan kerjasama dengan institusi luar.

Pada prediksi jangka panjang pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan geodesi, geomagnet, geologi, seismologi, seismic velocity, statistik dan lain-lain. Sedangkan untuk jangka pendek melakukan pengamatan geodesi (survei ulang pengamatan ground movement, temporal variation dan gravity), geochemical (ground water level, ground water quality, dan unsur-unsur radio aktif), dan pengamatan geomagnet. Sedang penelitian dasar meliputi percobaan-percobaan di laboratorium dan di lapangan yang meliputi experiment fracture dari sample batuan, pengukuran stress, dan lain-lain.

Di Amerika Serikat, kegiatan prediksi gempabumi diprioritaskan pada studi dasar mengenai crustal strain dan seismic monitoring yang dititik beratkan pada understanding of the seismic rupture process, serta eksperimen lapangan yang dilakukan untuk meramal gempa di areal South California dengan  pengamatan strain meter, ground water level.

Di Cina kegiatan ramalan gempabumi dilakukan dengan intensif dan dikonsentrasikan pada pengamatan precursor. Di negara itu telah dibagun jaringan pengamatan precursor yang terdiri dari ratusan stasiun pengamatan crustal deformation, hydro chemestry, ground water level, magnet bumi, dan ground resistivity,  serta banyak stasiun pengamatan yang lain seperti gravity, stress-strain dan electromagnetic.

Kegiatan prediksi gempabumi di Cina dilakukan dengan empat metode, yaitu: seismo-geological method, statistic analisys of seismicity (Gutenberg Richter Law), Corelation analisys ( position of / solar activity, gravity) dan precursor method. Diantara 4 metode tersebut yang menjadi andalan adalah metode pengamatan precursor. Pada metode ini prinsipnya adalah sebelum terjadi gempabumi akan didahului oleh anomali parameter-parameter fisis seperti perubahan yang menyolok dari parameter stress-strain, temperatur air bawah tanah, unsur radioaktif, geomagnit, resistivity, gravity, dan lain-lain bahkan akan ada perubahan dari tingkah laku binatang. Metode pengamatan precursor dipakai untuk prediksi jangka sedang dan pendek sedangkan metode yang lain dipakai untuk jangka panjang.

Dalam seismologi kita kenal precursory seismisity yang dibedakan menjadi tiga yaitu seismicity patern (seismic gap,variasi b value, dan lain-lain), source and medium parameters (stress drop, q value, variasi kecepatan gelombang, dan lain-lain), dan pembedaan urutan gempa (fore shock dan precursory swarm).

Secara teoritis gempabumi memang dapat diprediksi, namun para peneliti mengalami kesulitan karena beberapa hal, diantaranya: terbatasnya kondisi pengamatan terutama peralatannya, tidak periodiknya aktivitas gempabumi, ketidak tentuannya proses gempabumi, dan luasnya daerah jangkauan.

Selain dengan metode observasi precursor terdapat banyak metode dalam prediksi gempabumi, diantarnya: seismicity gap, seismicity band, increased seismicity, preseismic squance, variation of b value, source and medium parameters, wave velocity variations, fore shocks squance.

Salah satu contoh kegiatan prediksi gempa di Cina yang sangat sukses adalah peristiwa gempabumi Menglian yang terjadi pada 12 Juli 1995 dengan Magnitude Ms = 7,3 satu hari sebelum gempa utama terjadi diumumkan kepada masyarakat sehingga korban jiwa dapat dihindarkan.

Di Indonesia kegiatan prediksi  gempabumi dilakukan melalui penelitian secara individual oleh personil BMG, ITB dan beberapa instansi lain yang umumnya dilakukan dengan metode statistik menggunakan perhitungan periode ulang gempabumi.

Periode ulang gempa bumi maksudnya adalah bahwa gempa bumi dengan skala tertentu (misalnya M=8) akan terulang kembali di daerah yang sama pada kurun waktu tertentu. Perhitungan periode ulang ini memerlukan data paling tidak satu periode, lebih panjang lebih baik. Namun catatan gempa bumi dengan peralatan, baru dimulai pada awal abad 20. Karena itu untuk memperpanjang periode pengamatan, dibantu dengan catatan intensitas gempa yang sudah dimulai sejak awal abad masehi. Selain itu penelitian paleoseismik juga bisa membantu memperpanjang periode pengamatan.

Gempa yang sama kekuatannya dengan gempa pada 4 Juni 2000 di Bengkulu pernah terjadi dua kali pada 1833, 1914. Sehingga banyak yang setuju dengan teori prediksi gempabumi memakai metode periode ulang berkisar 80 tahun. Disamping itu terdapat juga gempa yang ukurannya lebih kecil dengan periode ulang lebih pendek.

Perhitungan matematis periode ulang gempa bumi di Sumatra oleh peneliti BMG (Rasyidi Sulaiman dan Robert Pasaribu, 2000) menunjukkan bahwa periode ulang di Sumatra Selatan berkisar antara 8-34 tahun dengan nilai tengah 21 tahun. Gempa pada tahun 1979 di Bengkulu yang cukup besar dengan M=5.8, MMI=VIII, sedangkan gempa berikutnya adalah Juni 2000 (1979+21tahun).

Gempabumi di lautan Indonesia sebelah selatan Jawa Barat dengan magnitude 8,1 SR terjadi pada tahun 1903 telah dihitung periode ulangnya dengan metode Weibul  (Subardjo, 1990) kurang lebih 125 tahun atau dalam jangka waktu antara 108 – 122 tahun.

1. Periode Ulang Gempabumi Distribusi Weibull

Kemungkinan terjadinya gempabumi pada selang waktu t  dan t + t adalah  l(t) dan oleh Weibull dinyatakan dalam formula:

l(t) = k tm ……………………………..(9.1-1)

k dan m adalah konstanta dimana k > 1 dan m > -1. Probabilitas kumulatif kejadian gempabumi antara waktu nol dan t yang diberi notasi F(t) dengan reliabilitas R(t) didefinisikan sebagai :

R(t) = 1 – F(t), dan

R(t) = exp.( – ò (t) dt

= exp.  {- (kt m+1)/ (m+1)}………..(9.1-2)

Sedang probabilitas densitas dari suatu kejadian gempabumi dirumuskan sebagai berikut:

f(t) = – dR(t)/dt

= k tm exp.{- (kt m+1)/ (m+1)} ……(9.1-3)

Dengan cara momen ke r suatu perubah acak t dinotasikan sebagai Mr, yaitu nilai peluang t pangkat ke r, dengan r = 1,2,3,……n; maka diperoleh bentuk sebagai berikut:

~

Mr = E(t r) =  ò t f r (t) dt

~       o

= ò k tm+r exp.{- (kt m+1)/ (m+1)}dt ……(9.1-4)

o

Jika: (kt m+1)/ (m+1) = X  dan t m+1 = {(m+1)/k }X, maka

t =  [{(m+1)/k }X ] 1/(m+1)  ………………..(9.1-5)

selanjutnya diturunkan ke dx/dt diperoleh:

{k/(m+1)} (m+1) tm dt = dx ……………….(9.1-6)

dimana                         dt = dx / k tm

dt = dx / k [{(m+1)/k}x]m/(m+1)

akan didapat:

Mr = E(t r) =  {k/(m+1)}-r/(m+1) ò X(m+r+1)/(m+1) -1 exp.(-x) dx      …(9.1-7)

dimana : ò X(m-1) exp.(-x) dx = m ; m>0

akhirnya diperoleh:

Mr = E(t r) = {k/(m+1)}-r/(m+1) {(m+r+1)/m+1)} ….(9.1-8)

Didapat rumusan periode ulang gempabumi sebagai berikut:

Untuk r = 1;

M1 = E(t) = {k/(m+1)}-1/(m+1) {(m+2)/m+1)}  ……(9.1-9)

Untuk r = 2;     M2 = E(t) = {k/(m+1)}-2/(m+1) {(m+3)/m+1)} …….(9.1-10)

Simpangan baku rata-rata periode ulang gempabumi adalah:

SD = {E(t2) – E2(t)}1/2    …………………………..(9.1-11)

2. Perubahan Vp/Vs dan parameter lainnya

Beberapa perubahan dapat dipakai sebagai precursor gempabumi. Telah dijelaskan diatas bahwa dari hasil eksperimen di laboratorium suatu batuan yang diberi gaya secara terus menerus suatu waktu akan patah. Sebelum batuan patah ternyata disekitar fokus patahan sebelumnya mengalami perubahan stress dan strain. Demikian pula pada kejadian gempabumi, lokasi disekitar hiposenter juga akan terjadi perubahan tegangan dan regangan, hal ini disebabkan karena terjadinya penumpukan / akumulasi energi sebelum dilepaskan menjadi gelombang seismik.

Dari teori yang telah dibahas pada bab-bab terdahulu bahwa stress dan strain terkait dengan perbandingan perubahan kecepatan gelombang primer (Vp) dan kecepatan gelombang skunder (Vs) atau Vp/Vs. Dalam kejadian gempabumi perubahan Vp/ Vs dapat diamati dan secara empiris biasa dihitung dengan menggunakan diagram Wadati yang telah dibahas pada bab terdahulu.

Dengan keterbatasan peralatan pengamatan stress dan strain di lapangan, penelitian di Indonesia tentang prediksi gempa masih dapat dilakukan dengan mengamati parameter ini.

Untuk mengamati perubahan Vp/Vs parameter yang diperlukan adalah perbedaan waktu datang gelombang s dan p atau (s-p) dan waktu tiba gelombang p kedua parameter ini tidak sulit di lakukan di stasiun pengamat gempabumi. Penelitian ini pernah dilakukan dengan menghitung kembali perubahan Vp/Vs sebelum terjadi gempa Ambon pada akhir tahun 1996 dengan magnitude  sekitar 5,5 (Subardjo, 1998), ternyata mengalami perubahan Vp/Vs yang signifikan.

Penelitian yang sama telah dilakukan sebelumnya oleh Feng (1977), dia meneliti gempabumi Hsinfeng – Cina yang terjadi pada tanggal 19 Maret 1962 dengan magnitude 6,1 selama 11 bulan sebelumnya dan telah terjadi perubahan Vp/Vs sebesar – 11 %. Kemudian Sekiya (1977) juga melakukan hal yang sama pada gempa Kepulauan Izu – Jepang selama 11 tahun, sebelum terjadi gempa dengan magnitude 6,9 telah terjadi perubahan nilai Vp/Vs sebesar – 5%.

Perubahan Medan Magnet dan Resistivitas:

Medan magnet bumi menunjukkan perubahan sebelum dan sampai waktu terjadi gempabumi.  Sedangkan harga resistivitas listrik batuan umumnya menurun pada saat terjadi gempabumi dan kemudian kembali normal.

Air Tanah:

Beberapa pengamatan menunjukkan bahwa ketinggian dan temperatur air tanah naik sebelum terjadi gempabumi. Gordon mencatat kenaikan setinggi 2,9 cm pada sumur berjarak 110 km dari pusat gempabumi 1,5 jam sebelum gempabumi dengan magnitude 6,9 terjadi di Meckering tahun 1968.

Perubahan Radon:

Hasil pengamatan di beberapa tempat menunjukkan jumlah radio aktif radon bertambah dengan tajam sebelum terjadi gempa dan kemudian menurun secara cepat setelah gempabumi berakhir.

Gempa Mikro:

Gempa mikro yang banyak terdapat di daerah seismik aktif dapat dipakai sebagai indikasi akan terjadinya gempa utama. Pada umumnya aktivitas gempa mikro bertambah pada saat gempa utama akan terjadi.

Migrasi:

Pada tahun 1976 terjadi migrasi pusat gempa sepanjang jalur Mediteran berasal dari Itali dengan magnitude 6,9 merambat ke Ionian Yunani (6,7), Rusia (7,3), RRC (7,0), Mindoro (6,9), Sumatra (7,1), dan berakhir di Irian dengan magnitude 7,3.

Berikutnya deretan kejadian gempabumi terjadi tahun 1982 yang dimulai dari Atlantik Utara dengan kekuatan 6,0 bermigrasi ke Spanyol, Itali (6,1), Yunani (6,8), Iran (7,1), Todzhik (6,9), dan Burma dengan magnitude 6,4.

Injeksi Air:

Air yang dimasukkan kedalam tanah dapat mempengaruhi kegiatan gempa di daerah tersebut. Injeksi air sedalam 3800 meter di Colorado telah memicu terjadinya beberapa gempabumi. Hasil penelitian di daerah bendungan Saguling menunjukkan kenaikan aktivitas gempa mikro setelah pengisian air dibanding sebelumnya.

Ledakan Nuklir:

Ledakan nuklir yang diadakan di bawah permukaan bumi tercatat menimbulkan gempa-gempa susulan. Seismograf selain dapat menentukan lokasi dan kekuatan ledakan nuklir, juga pernah digunakan oleh Israel untuk mendeteksi mobilisasi tentara Arab dalam perang Arab-Israel tahun 1967.

3. Pengamatan Gempa Susulan

Gempa susulan (aftershock) merupakan proses stabilisasi medan stress ke keseimbangan yang baru setelah pelepasan energi atau stress drop yang besar pada gempa utama. Setiap gempa tektonik dangkal (kira-kira < 100km) selalu diikuti oleh dislokasi atau patahan. Dislokasi ini mengganggu keseimbangan medium sekelilingnya, sehingga dengan sendirinya muncul gempa lainnya yang merupakan proses keseimbangan baru. Proses ini bisa berlangsung beberapa jam sampai berminggu-minggu, tergantung pada besar gempa utama dan sifat batuan. Frekuensi dan magnitude gempa susulan ini umumnya menurun secara exponensial terhadap waktu (gambar 9.1).

Formula kurva penurunan frekuensi gempa susulan  terhadap waktu dapat didekati dengan persamaan berikut:

Nt = No exp.(-b.t)……………………………………..(9.3)

Dimana Nt adalah frekuensi gempa susulan pada waktu t,  No adalah frekuensi gempa susulan pada waktu awal dan b adalah konstanta attenuasi yang dapat ditentukan dengan regresi linier terhadap data yang ada. Waktu t yang dipakai bisa digunakan hari (24 jam), ½ hari (12 jam) selang 6 jam atau selang yang lebih kecil tergantung data yang ada. Prediksi berhentinya gempa susulan dapat ditentukan dari persamaan tersebut pada Nt = 0

Extrapolasi kurva frekuensi dan magnitude terhadap waktu bisa menjadi patokan perkiraan besarnya gempa susulan, sehingga bahaya dari gempa susulan ini menjadi sangat serius apabila gempa utama telah merusak struktur bangunan. Struktur bangunan yang sudah dirusak oleh gempa seperti susunan dinding, batu dan pilar yang tak mempunyai daya ikat lagi satu sama lain sehingga gempa susulan dengan MMI IV saja sudah cukup untuk merubuhkan bangunan.

Peranan peneliti gempa susulan baik dari BMG atau lainnya sangat diperlukan untuk melihat tingkat penurunan aktivitas gempa. Prediksi berhentinya aktivitas gempa susulan sangat diperlukan dalam pengambilan kebijakan pemerintah setempat untuk memulai kegiatan pembangunan dan rehabilitasi. Gempa susulan Bengkulu yang dilaporkan tim survei BMG menunjukkan penurunan aktivitas secara exponensial (gambar 9.1). Pada hari ke empat terdapat gempa susulan dengan skala Mw6.5 yang mengakibatkan kenaikan aktivitas kedua setelah gempa utama.

sumber: Pendahuluan Seismologi BMKG

Bulan, Anggota Tata Surya yang Unik

supriyadi

13.06.1607

Usia bulan:

Usia bulan lebih tua dari yang diperkirakan, bahkan diperkirakan lebih tua daripada bulan dan matahari itu sendiri! Umur bumi paling tua yang bisa diperkirakan adalah 4.6 milyar tahun. Sementara itu batuan bulan malah sudah berumur 5.3 milyar tahun. bulan lebih tua 1 milyar tahun ketimbang bumi!

Lebih keras diatas:

Normalnya sebuah planet akan keras di dalam dan makin lama makin lembut diatas, seperti bumi kita. Tidak demikian hal nya dengan bulan. Bagian dalam bulan seperti berongga, sementara bagian atasnya keras sekeras titanium. Hal ini lah yang menyebabkan bahwa bulan bagaimanapun juga sangat kuat dan tahan serangan. Kawah terbesar di bulan berdiameter 300km, dengan kedalaman hanya 6.4km. Sementara itu, menurut hitungan ilmuwan, jika batuan yang menubruk bulan tadi, menubruk bumi, maka akan terbentuk lubang paling tidak sedalam 1.200km! Bulan yang berongga juga dibuktikan saat kru apollo yang meninggalkan bulan, membuang kembali sisa pesawat yang tidak digunakan kembali ke bulan . Hasilnya, sebuah gempa dan gema pada permukaan bulan terjadi selama 15 menit. Penemuan ini diulang kembali oleh kru apollo 13, yang kali ini jatuh lebih keras, menimbulkan gema selama 3 jam 20 menit. Ibaratnya seperti sedang membunyikan lonceng yang kemudian berdentang, hanya saja karena tidak ada udara, maka suara dentang lonceng yang dihasilkan tidak bisa didengar oleh manusia. Sementara itu, penemuan ini dipertanyakan oleh Carl sagan, bahwa satelit alamiah nggak mungkin kopong dalam nya.

Bebatuan bulan:

Asal usul batuan dan debu bulan sendiri tidak jelas, karena perbedaan komposisi pembentuk bulan yang berbeda sekali dengan komposisi batuannya. Batu yang pernah diambil team apollo sebesar 380kg lebih, menunjukkan ada nya bahan unik dan langka seperti titanium murni, kromium, itrium, dan lain lain. Logam ini sangat keras, tahan panas, anti oksidasi. Jenis logam ini tidak terdapat secara alamiah di alam, dan jelas tidak mungkin terbentuk secara alamiah. Para ilmuwan juga mengalami kesulitan menembus sisi luar bulan sewaktu mereka mengebor bagian terluar bulan. Setelah di teliti, bagian yang di bor tadi adalah sebuah mineral dengan kandungan titanium, uranium 236 dan neptunium 237. Bahan bahan super keras anti karat, yang juga tidak mungkin terbentuk secara alamiah, karena digunakan di bumi untuk membuat pesawat stealth. Kemungkinan besar, ini logam hasil sepuhan manusia! Batuan bulan juga entah bagaimana sangat magnetik. Padahal tidak ada medan magnet di bulan itu sendiri. Berbeda dengan bumi yang banyak sekali mengandung medan magnet.

Air menguap:

Pada 7 maret 1971, instrumen bulan yang dipasang oleh astronot merekam adanya air melewati permukaan bulan. Uap air tadi bertahan hingga 14 jam dan menutupi permukaan seluas 100 mil persegi. Ukuran bulan = matahari? Bulan bisa menutupi matahari dalam gerhana bulan total, tapi ukurannya tidak sama. Yang menarik, jarak matahari ke bumi persis 395 kali lipat jarak bulan ke bumi, sedangkan diameter matahari persis 395 kali diameter bulan. Pada saat gerhana matahari total, ukuran bumi dan bulan persis sama, sehingga matahari bisa tertutup bulan secara sempurna. Hitungan ini terlalu cermat dan akurat jika hanya merupakan kebetulan astronomi semata.

Orbit yang aneh:

Orbit bulan merupakan satu satunya yang benar benar hampir bulat “sempurna” dari semua sistem tata surya kita. berat utama bulan terletak lebih dekat 6000 kaki ketimbang pusat geometris nya, yang harusnya justru mengakibatkan orbit lengkung. Sesuatu yang tidak diketahui telah membuat bulan stabil pada poros nya. Suatu teori yang belum di yakini benar adanya juga mengatakan bahwa wajah bulan yang selalu sama di setiap hari nya karena adanya suatu hal yang menyebabkan itu. Yang pada intinya, tetap suatu kebetulan astronomi.

Asal usul bulan:

Teori bahwa bulan tadinya adalah sebagian dari bumi yang mental keluar bumi karena tumbukan hebat di masa lalu hampir saja di setujui oleh semua orang, setelah sebelumnya mereka mengira bahwa bulan terbentuk dari debu debu angkasa yang mampat menjadi satelit bumi. Belakangan ini teori menyebutkan bahwa jika bagian sebesar bulan terambil dari bumi, maka bumi tidak akan bisa bulat seperti sekarang. Dan jika bulan tidak berongga, maka tidak mungkin bulan bisa berada menjadi satelit bumi. Terlalu berat dan bulan akan menghantam bumi. Teori teori asal usul bulan kembali dipertanyakan, dan teori paling “gila” sepanjang sejarah mulai muncul, bahwa bulan diciptakan dengan sengaja oleh manusia terdahulu sebagai alat bantu dalam navigasi dan juga astronomi!

KUNJUNGAN KUNJUNGAN DI KANTOR GEOFISIKA DENPASAR

SELAMAT DATANG DI KANTOR GEOFISIKA DENPASAR..

NIH GAMBAR GEMPA NYA..

AYO SEMANGAT ANAK ANAK..PURA PURA DENGERIN AJA YA…

AYO BELAJAR YANG BENER..PERTANYAANYA JANGAN SUSAH SUSAH YAH..HEHE

Gempabumi dan Lempeng Tektonik

Gempabumi dan Lempeng Tektonik

Gempa bumi merupakan fenomana alam dimana terjadi prose
s pelepasan energi yang terakumulasi selama kurun waktu tertentu secara tiba-tiba akibat adanya pergerakan lempeng tektonik di dalam bumi.

Menurut teori tektonik lempeng, bagian luar bumi merupakan kulit yang tersusun oleh lempeng-lempeng tektonik yang saling bergerak. Di bagian atas disebut lapisan litosfir merupakan bagian kerak bumi yang tersusun dari material yang kaku. Lapisan ini mempunyai ketebalan sampai 80 km di daratan dan sekitar 15 km di bawah samudra. Lapisan di bawahnya disebut astenosfir yang berbentuk padat dan materinya dapat bergerak karena perbedaan tekanan.Litosfir adalah suatu lapisan kulit bumi yang kaku, lapisan ini mengapung di atas astenosfir. Litosfir bukan merupakan satu kesatuan tetapi terpisah-pisah dalam beberapa lempeng yang masing-masing bergerak dengan arah dan kecepatan yang berbeda-beda. Pergerakan tersebut disebabkan oleh adanya arus konveksi yang terjadi di dalam bumi.

Batas lempeng tektonik dapat dibedakan atas tiga bentuk utama, konvergen, divergen, dan sesar mendatar. Bentuk yang lainnya merupakan kombinasi dari tiga bentuk batas lempeng ini.

a. Pada bentuk konvergen lempeng yang satu relatif bergerak menyusup di bawah lempeng yang lain. Zona tumbukan ini diindikasikan dengan adanya palung laut (trench), dan sering disebut juga dengan zona subduksi atau zona Wadati-Benioff. Zona penunjaman ini menyusup sampai kedalaman 700 km dibawah permukaan bumi di lapisan astenosfir. Bentuk konvergen berasosiasi terhadap sumber gempa dalam dan juga gunung api.

b. Pada bentuk divergen kedua lempeng saling menjauh sehingga selalu terbentuk material baru dari dalam bumi yang menyebabkan munculnya pegunungan di dasar laut yang disebut punggung tengah samudra (mid oceanic ridge).

c. Pada tipe jenis sesar mendatar kedua lempeng saling bergerak mendatar. Sketsa jenis pertemuan lempeng tektonik dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar1.1 Sketsa jenis pertemuan lempeng tektonik

Jenis-jenis Gempabumi

Jenis-jenis gempabumi berdasarkan penyebab terjadinya

a. Gempa Bumi Vulkanik (Gunung Api)

Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung tersebut.

b. Gempa Bumi Tektonik

Gempa Bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan-kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar ke seluruh bagian bumi.

c. Gempa Bumi Runtuhan

Gempa bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah pertambangan, gempa bumi ini jarang terjadi.

d. Gempa Bumi Buatan

Gempa Bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti pada peledakan nuklir dan dinamit.

Gempabumi yang terjadi di sekitar perbatasan lempeng biasa disebut gempa interplate, sedang yang terjadi pada patahan lokal yang berada pada satu lempeng disebut gempa intraplate.

Jenis Gempabumi berdasarkan bentuk pertemuan lempengnya

a. Gempa bumi yang terjadi di sepanjang sistem rift dimana lempeng samudra terbentuk. Gempa bumi yang terjadi di sepanjang sistem subduksi dimana lempeng samudra menyusup di bawah lempeng kontinen.

b.  Gempa bumi yang terjadi di sepanjang patahan transform atau sesar geser dimana pertemuan lempeng tektonik saling menggeser secara horizontal.

Tiga jalur gempa bumi utama

a. Jalur Gempa Bumi Sirkum Pasifik

Jalur ini dimulai dari Cardilleras de los Andes (Chili, Equador dan Catibia), Amerika Tengah, Mexico, California, British, Columbia, Alaska, Alaution Island, Kamchatka, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia, Polynesia dan berakhir di New Zealand.

b. Jalur Gempa Bumi Mediteran atau Trans Asiatic

Jalur ini dimulai dari Azores, Mediteran (Maroko, Portugal, Italia, Balkan, Rumania), Turki, Kaukasus, Irak, Iran, Afganistan, Himalaya, Burma, Indonesia (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Laut Banda) dan akhirnya bertemu dengan jalur Sirkum Pasifik di daerah Maluku.

c.Jalur Gempa Bumi Mid-Atlantic

Jalur ini mengikuti Mid-Atlantic Ridge yaitu Spitsbergen, Iceland dan Atlantik Selatan

Sebanyak 80 % dari gempa di dunia, terjadi di jalur Sirkum Pasifik yang sering disebut sebagai Ring of Fire karena juga merupakan jalur Vulkanik. Sedangkan pada jalur Mediteran terdapat 15 % gempa dan sisanya sebanyak 5 % tersebar di Mid Atlantic dan tempat-tempat lainnya.

Di Indonesia lokasi sumber gempabumi berawal dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian berbelok ke Utara di Sulawesi, kemudian dari Nusa Tenggara sebagian terus ke timur Maluku dan Irian.

Hanya pulau Kalimantan yang relatif tidak adasumber gempa kecuali sedikit bagian timur

Gambar 1.2. Peta sebaran episenter di Indonesia periode 1965-1995

Tipe Gempabumi menurut Mogi

a.  Tipe I     : Pada tipe ini gempa bumi utama diikuti gempa susulan tanpa didahului oleh  gempa pendahuluan (fore shock).

b. Tipe II : Sebelum terjadi gempa bumi utama, diawali dengan adanya gempa pendahuluan dan selanjutnya diikuti oleh gempa susulan yang cukup banyak.

c. Tipe III : Tidak terdapat gempa bumi utama. Magnitude dan jumlah gempabumi yang terjadi besar pada periode awal dan berkurang pada periode akhir dan biasanya dapat berlangsung cukup lama dan bisa mencapai 3 bulan. Tipe gempa ini disebut tipe swarm dan biasanya terjadi pada daerah vulkanik seperti gempa gunung Lawu pada tahun 1979.

Jenis Gempa bumi Berdasarkan Kekuatannya

a. Gempabumi yang sangat besar, M > 8     SR

b. Gempabumi besar, M antara 7 – 8 SR

c. Gempabumi merusak, M antara 5 – 6 SR

d. Gempabumi sedang, M antara 4 – 5 SR

e. Gempabumi kecil, M antara 3 – 4 SR

f.  Gempabumi mikro, M antara 1 – 3 SR

g. Gempabumi ultramikro, M < 1 SR

Jenis Gempabumi berdasarkan Kedalaman Sumber

a. Gempa bumi dalam yaitu gempa bumi dengan kedalaman (h) > 450 km

b.  Gempa bumi menengah yaitu gempa bumi dengan kedalaman (h) 66 – 450 km

c. Gempa bumi dangkal yaitu gempa bumi dengan kedalaman (h) 0 – 65 km

Gelombang Seismik dan Persamaan Gelombang

Gelombang seismik

Gelombang Seismik adalah gelombang elastik yang menjalar ke seluruh bagian dalam bumi dan melalui permukaan bumi, akibat adanya lapisan batuan yang patah secara tiba tiba atau adanya suatu ledakan.

Gelombang utama gempa bumi terdiri dari dua tipe yaitu :

a. Gelombang Bodi (Body Waves)

Gelombang bodi merupakan gelombang yang menjalar melalui bagian dalam bumi dan dapat menjalar ke segala arah di dalam bumi.

Gelombang ini dibedakan lagi menjadi dua tipe yaitu :

– Gelombang Primer (P)

Gelombang yang arah rambatnya sejajar dengan arah getar partikel medium yang dilaluinya. Gelombang primer kecepatannya paling tinggi diantara gelombang yang lain dan tiba pertama kali. Gelombang ini disebut juga gelombang longitudinal atau gelombang kompresional. Menurut Poisson kecepatan gelombang P mempunyai √3 dari kecepatan gelombang S.

– Gelombang Sekunder (S)

Gelombang yang arah rambatnya tegak lurus dengan arah getar medium yang dilaluinya. Gelombang sekunder tiba setelah gelombang priner dan terdiri dari dua komponen berdasarkan arah getarnya, yaitu gerakan partikel horizontal (SH) dan gerakan partikel vertikal (SV). Gelombang ini disebut juga gelombang transversal atau gelombang shear.

b. Gelombang Permukaan (Surface Waves)

Gelombang permukaan merupakan gelombang elastik yang menjalar sepanjang permukaan bumi (tide waves), karena gelombang ini terikat harus menjalar melalui suatu lapisan atau permukaan. Gelombang ini terdiri dari :

– Gelombang Love (L) dan Gelombang Rayleigh (R)

Gelombang ini menjalar melaui permukaan bebas dari bumi. Gelombang L gerakan partikelnya sama dengan gelombang SH dan memerlukan media yang berlapis. Gelombang R lintasan gerak partikelnya merupakan suatu bentuk ellips. Bidang ellips ini vertikal dan berimpit demgan arah penjalarannya. Gerakan partikelnya ke belakang (bawah maju atas mundur). Gelombang R menjalar melalui permukaan media yang homogen.

– Gelombang Stonely

Gelombang ini arah penjalarannya seperti gelombang R tetapi menjalar melalui batas antara dua lapisan di dalam bumi.

– Gelombang Channel

Gelombang ini menjalar melalui lapisan yang berkecepatan rendah (low velocity layer) di dalam bumi.

Gambar 1.3. Penjalaran Gelombang Seismik

kurva waktu jalar terhadap jarak episenter (ES) untuk gelombang langsung, dipantulkan dan dibiaskan sebagai berikut:

Gambar 3.6. Kurva waktu jalar terhadap jarak episenter; garis 1,2 dan 3 berturut-turut  menunjukkan waktu jalar gelombang langsung, bias dan pantul; EXcr adalah jarak kritis; EXco adalah jarak cross over; sedang S1, S2, dan S3 adalah stasiun pengamat.

Terlihat pada gambar diatas , bahwa pada jarak ES hanya akan  mencatat gelombang langsung dan gelombang yang hanya dipantulkan. Pada jarak episenter lebih besar atau sama dengan EXCr stasiun akan merekam gelombang yang dibiaskan disamping gelombang yang langsung maupun yang dipantulkan. Jarak EXCr ini dikenal sebagai jarak kritis.

Dari kurva tersebut dapat dianalisis bahwa gelombang yang dipantulkan tidak pernah tiba lebih awal di stasiun pencatat. Pada jarak lebih besar atau sama dengan jarak Cross Over ( EXCo ), gelombang yang lebih dahulu sampai di stasiun pencatat dan sebaliknya untuk jarak yang lebih kecil dari EXCo maka gelombang yang langsung akan sampai lebih dahulu.

Sebagai petunjuk analisis pembacaan seismogram, prinsip-prinsip berikut dapat dipakai:

  • Periode dominan gelombang crustal seperti Pg, P*, Pn, Sg, S*, Sn, dsb umumnya adalah kurang dari satu detik. Dalam hal ini catatan terbaik jika dilihat pada seismograf periode pendek.
  • Amplitude gelombang S lebih besar dari P, dan biasanya terbaca jelas pada komponen horizontal.
  • Pada jarak episenter kurang dari 200 km (tergantung pada model struktur kerak dan kedalaman fokus), gelombang yang pertama datang adalah Pg dan jika lebih dari 200 km gelombang yang datang lebih dulu adalah Pn.
  • Gempa permukaan (sangat dangkal) yang jarak episenternya kurang dari 600 km, sering menimbulkan gelombang permukaan Rayleigh (Rg) dan kelihatan jelas pada catatan seismograf komponen vertikal.
  • Gempa lokal dan regional yang tidak besar lamanya catatan dalam seismogram (duration time) hanya beberapa menit.
  • Untuk memudahkan pembacaan sebaiknya dilakukan dengan banyak stasiun, agar dapat membandingkannya.

MAGNITUDO GEMPA BUMI

Magnitudo merupakan kekuatan dari gempa bumi yaitu mempresentasikan energi yang dipancarkan sumber gempa bumi dalam bentuk pancaran gelombang seismik. Penentuan magnitudo dari berbagai stasiun pencatat gempa untuk gempa yang sama harusnya mempunyai harga yang hampir sama (dengan batas toleransi 0,2 – 0,3). Seorang seismologist Amerika, CF. Richter pada tahun 1935 untuk pertama kalinya memperkenalkan konsep tentang perhitungan magnitudo berdasarkan seismograf Wood Anderson. Secara umum rumusan magnitudo sebagai berikut :

M = Log (A/T) + f (∆,h) +Cs + Cr    (2.4-a)

Dimana :

M  = Magnitudo

A  = Amplitudo gerakan tanah (μm)

T  = Periode gelombang (sekon)

∆  = Jarak episenter (derajat)

h  = Kedalaman fokus

Cs = Koreksi stasiun

Cr = Koreksi regional

Dari rumusan empiris diatas harga magnitudo tidak ada batasnya. Tetapi karena kekuatan (strength) batuan dalam menahan akumulasi stress (energi) terbatas maka besaran atau harga magnitudo gempa menjadi terbatas. Ada beberapa istilah magnitudo yang biasa digunakan diantaranya :

Magnitudo Lokal (ML)

Magnitudo ini pertama kali ditemukan oleh Richter (1935) unutk mendeteksi gempa-gempa lokal di sekitar California selatan. Seismograf yang digunakan saat itu seismograf  Wood Anderson derngan konstanta-konstanta : T (periode batas) = 0,8 ; Magnifikasi maksimum = 2800 ; faktor dumping = 0,8 ; seismograf terletak pada jarak kurang dari 100 km dari episenter. Persamaannya yaitu :

ML = Log A – Log ∆                           (2.4-b)

Dimana :

ML = Magitudo lokal

A  = Amplitudo maksimum getaran tanah (μm)

∆  = Jarak stasiun pencatat ke sumber gempa bumi (km) dengan ∆ ≤ 600 Km

Sedangkan magnitudo untuk gempa-gempa di luar jarak ini juga dapat dihitung    asalkan jarak episenter ke stasiun dan amplitudonya diketahui.

Magnitudo Gelombang Permukaan (MB)

Magnitudo ini didefinisikan berdasarkan catatan amplitudo dari gelombang P yang menjalar melalui bagian dalam bumi (Lay. T dan Wallace.T.C. 1995). Persamaan umumnya yaitu :

MB = Log (A/T) + f (∆,h)                    (2.4-c)

Dimana :

MB = Magnitudo gelombang badan

A   = Amplitudo gerakan tanah (μm)

T   = Periode (sekon)

∆   = Jarak episenter (km)

h   = Kedalaman fokus (km)

Persamaan ini digunakan oleh Gutenberg (1945), untuk gelombang badan yang lain (p, pp, s) untuk berbagai kedalaman.

Magnitudo Gelombang Permukaan (MS)

Magnitudo tipe ini didapatkan sebagai hasil pengukuran terhadap gelombang permukaan (surface waves). Untuk jarak ∆ > 600 km seismogram periode panjang (long periode seismogram) dari gempa bumi dangkal didominasi oleh gelombang permukaaan, gelombang ini biasanya mempunyai periode sekitar 20 detik. Persamaan umumnya yaitu :

MS = Log A + C1 Log ∆ + C2          (2.4-d)

Dimana :

MS = Magnitudo gelombang permukaan

A = Amplitudo maksimum dari pergeseran tanah horizontal pada periode 20 detik (μm)

∆   = Jarak episenter ( km)

C1, C2   = Koefisien dan konstanta yang didapatkan dengan pendekatan empiris.

Magnitudo Durasi (MD)

Menurut Lee Stewart (1981), sejak tahun 1972, studi mengenai kekuatan gempa bumi dikembangkan pada penggunaan durasi sinyal gempa bumi untuk menghitung magnitudo bagi kejadian gempa lokal. Magnitudo durasi merupakan fungsi dari total durasi sinyal seismik (Massinon. B,1986). Ada beberapa rumusan magnitudo yang biasa digunakan, diantaranya yaitu :

Bisztricsany (1958)

MD = a Log t + b ∆ + c                     (2.4-e)

Tsumura (1967)

MD = a + b Log D + c R + d h          (2.4-f)

Alveerez (1990)

MD = a Log D + b                            (2.4-g)

Dimana :

MD = Magnitude Durasi

T dan D  = Lamanya getaran (sekon)

∆            = Jarak hiposenter (km)

R           = Jarak episenter (km)

h            = Kedalaman pusat gempa

a, b, c, dan d konstanta

KONSEP RUMAH TAHAN GEMPA

supriyadi

13.06.1607

Teknologi rumah tahan gempa cepat bangun
Teknologi yang biasa dikembangkan oleh berbagai pihak sebagai solusi rumah cepat bangun, biasa dibuat dari konstruksi sederhana dengan jenis bahan struktur konstruksi ringan dan penutup atap dan dinding yang ringan pula. Struktur penyangga rumah sederhana cepat bangun bisa dibuat dari rangka besi, kayu, maupun bambu. Pada prinsipnya rancangan tersebut dapat mempertahankan kekakuan struktur serta memiliki fleksibilitas untuk bergerak bersama gempa, serta mempertahankan penutup atap dan dinding pada tempatnya dengan sedikit kerusakan.
Dibawah ini terdapat leaflet pedoman praktis pembangunan rumah kayu tahan gempa yang dibuat oleh Departemen Pekerjaan Umum.

Teknologi bangunan konvensional bangunan batu-bata dengan struktur beton bertulang
Konsep hunian tahan gempa adalah bangunan yang dapat bertahan dari keruntuhan akibat getaran gempa, serta memiliki fleksibilitas untuk meredam getaran. Prinsipnya pada dasarnya ada dua: kekakuan struktur dan fleksibilitas peredaman.
Prinsip Kekakuan struktur rumah menjadikan struktur lebih solid terhadap goncangan. Terbukti, bahwa struktur kaku seperti beton bertulang bila dibuat dengan baik dapat meredam getaran gempa dengan baik. Hal ini berarti memperhatikan sungguh-sungguh struktur yang dibuat pada saat pembangunan agar dapat lebih kuat dan lebih kaku. Kekakuan struktur dapat menghindarkan kemungkinan bangunan runtuh saat gempa terjadi. Kolom-kolom dan balok pengikat harus kuat dan ditopang oleh pondasi yang baik pula.
Prinsip Fleksibilitas: Adanya kemungkinan struktur bangunan dapat bergerak dalam skala kecil, misalnya dengan menggunakan prinsip hubungan roll pada tumpuan-tumpuan beban. Yang dimaksud hubungan tumpuan roll adalah jenis hubungan pembebanan yang dapat bergerak dalam skala kecil untuk meredam getaran. Ini adalah salah satu contoh saja.
Prinsip penggunaan bahan material yang ringan dan ‘kenyal’: yaitu menggunakan bahan-bahan material ringan yang tidak lebih membahayakan bila runtuh, dan lebih ringan sehingga tidak sangat membebani struktur yang ada. Contohnya struktur kayu yang dapat menerima perpindahan hubungan antar kayu dalam skala gempa sedang.
Prinsip massa yang terpisah-pisah: yaitu memecah bangunan dalam beberapa bagian struktur yang lebih kecil, sehingga struktur ini tidak terlalu besar, terlalu panjang karena bila terkena gempa harus meredam getaran lebih besar.



Sistem pondasi yang ada saat ini yaitu pondasi tradisional dengan bahan batu kali harus diperhatikan dengan baik; antara lain diusahakan memiliki kemampuan meredam getaran dengan memberikan celah untuk bergerak pada hubungan antara pondasi dengan sloof, pondasi dengan kolom. Cara ini juga bisa didukung dengan memberikan bahan seperti pecahan kaca diantara pondasi dan sloof.
Untuk dinding, sebenarnya dinding rumah2 tradisional banyak yang sudah sesuai untuk menghadapi gempa, antara lain dinding dari bahan bambu maupun tanaman lainnya. Dinding semacam ini dapat menerima getaran gempa dengan sangat baik. Bahkan rumah-rumah joglo kuno dapat bertahan dengan baik saat gempa.
Untuk kondisi dewasa ini, bahan seperti lembaran komposit (misalnya dinding Hebel), gypsum dan bahan ringan lainnya dapat dengan baik bertahan saat gempa karena ringan dan kuatnya. Selain itu kondisi bahan lembaran solid ini dapat digabungkan dengan fleksibilitas penyambungan dengan kolom-kolom untuk meredam getaran.
Jika memakai batu bata, usahakan agar terdapat penguatan lebih banyak dengan menggunakan kolom-kolom praktis sebagai pengaku. Jangan pernah meletakkan beban atap langsung pada dinding bata. Dinding bata juga perlu untuk diberi angkur pada kolom setiap jarak susunan 8 bata. Dinding bata yang diberi angkur dapat bertahan lebih baik saat gempa karena ditahan oleh kolom dan tidak ambruk.

Jenis atap yang ringan menggunakan kayu dapat dimaksimalkan ketika menghadapi gempa dengan membuat angkur pada ring balok, dimana angkur ini diberi celah untuk bergerak dengan sistem hubungan roll. Jenis atap yang cukup baik adalah atap yang ringan, menggunakan penutup atap ringan seperti lembaran komposit, namun bahan ini kurang diminati karena secara tampilan kurang bagus dibandingkan penutup atap genteng.
Beton harus diperkuat agar tidak mudah ambruk, secara keseluruhan, kolom dan balok beton menyangga keseluruhan bangunan, karenanya bila struktur ini tidak kuat menahan gempa, maka keseluruhan bangunan juga tidak kuat. Usahakan untuk membagi bangunan dalam beberapa kelompok struktur, misalnya menggunakan prinsip dilatasi (pemisahan struktur) antara satu massa dengan massa bangunan lain. Contohnya; memisahkan area ruang keluarga dengan area kamar-kamar secara struktural (meskipun secara organisasi ruang tetap menyatu).
Bangunan dengan bahan tripleks kurang disarankan, karena mudahnya terbakar. Bahan ringan lain yang dapat disarankan sebagai pengganti adalah gypsum atau dinding komposit. Untuk kawasan ibukota, bahan-bahan tersebut secara estetis dapat diterima lebih baik. Bangunan yang atapnya dari alang2 atau jerami dapat diterima bila memang konsep bangunannya tradisional, atau memang dari awalnya tradisional, serta gaya hidup penghuninya sesuai untuk rumah tinggal tradisional (misalnya karena perawatan yang lebih banyak dibandingkan bahan atap modern). Bangunan seperti ini, digabungkan dengan cara-cara membangun tradisional seperti menggunakan kolom bambu, malah sangat baik bertahan dalam kondisi gempa.
Rancangan interior sebaiknya disesuaikan bila kita concern terhadap masalah gempa ini. Pilihlah jenis furniture yang ringan dan tidak menghalangi saat dibutuhkan evakuasi gempa.

Pada dasarnya bahan-bahan bangunan yang ada saat ini dapat ditingkatkan lagi mutunya dalam menghadapi gempa, serta diperlukan inovasi dalam pengadaan material baru yang dapat menunjang keamanan saat gempa, seperti konstruksi yang ringan, fleksibel dan kuat. Yang paling penting diperhatikan melihat tren saat ini adalah; membuat bangunan dengan cara membangun yang lebih baik, seperti memperkuat dinding dengan angkur, kolom-kolom praktis, dan sebagainya.
Ongkos membangun rumah tahan gempa secara relatif tidak banyak berbeda dengan rumah yang ada saat ini, hanya kualitas sambungan, joint antar pembebanan, jenis material yang mendukung (ringan, kuat dan fleksibel) dapat diperbanyak dan diaplikasikan dalam bangunan. Malahan saat ini terdapat material-material baru fabrikasi yang secara struktural telah teruji melalui laboratorium dan memiliki kualitas lebih baik daripada material konvensional.
Pada dasarnya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas rancangan dan bangunan terhadap gempa melalui cara-cara membangun dan jenis material. Uang yang dikeluarkan tentunya untuk membeli material-material tersebut.

ALAT ANTI GEMPA?? BENER GA??

supriyadi

13.06.1607

Ternyata, baru-baru ini peneliti telah berhasil membuat desain sebuah sistem struktur baru untuk gedung tahan gempa yang bahkan diyakini mampu bertahan saat gempa berkekuatan besar sekalipun.

Sebuah metode baru konstruksi yang menggunakan baja tendon dan “sekering” (fuses) yang bisa diganti agar bisa membantu sebuah bangunan untuk bertahan terhadap gempa bumi kuat baru-baru ini telah berhasil diuji coba, begitu yang saya baca dari situs” ujar penulis.

Seperti listrik, sistem ini punya ‘Sekering’ (Fuses)

Penjelasan sistem kerja desain gedung tahan gempa ini adalah sebagai berikut.

Bangunan pada sistem baru ini bersandar pada sebuah rangka baja (steel braced-frames) yang dibuat pada bagian eksterior bangunan. Rangka baja ini dirancang untuk bisa bergoyang ke atas dan ke bawah saat serangan gempa terjadi. Di tengah rangka baja ini terdapat tendon (urat) baja yang bergerak elastis untuk mengendalikan goyangan. Tendon ini juga berfungsi untuk mengembalikan posisi bangunan ke tempat semula saat getaran gempa sudah berhenti.

“Apa yang unik adalah, berbeda dengan sistem konvensional, rangka baja ini benar-benar bergoyang terpisah dari pondasi saat terjadi gempa besar,” begitu kata Deierlein si kepala peneliti.

‘Sekering’ baja juga turut menjaga bangunan dari kerusakan. Sekering ini berfungsi untuk menyalurkan energi gempa agar bisa membatasi kerusakan hanya pada area tertentu. Sekering ini, seperti sekering listrik, bisa diganti bila rusak.

Ide dari sistem struktur ini sebenarnya adalah untuk mengkonsentrasikan kerusakan pada sekering yang dapat diganti.

Pada gambar skematik di atas terlihat yang berwarna merah adalah rangka baja utama (steel braced-frame). Warna putih adalah simulasi gedung tiga lantai. Warna kuning adalah sekering yang terletak di dasar rangka (gambar inset). Di depan dan belakang sekering terdapat kabel baja vertikal untuk menarik gedung ke posisi semula saat gempa berhenti.