Archive for March, 2009

Selisih Nilai Gravitasi dan Indikasi Subsidensi pada Lokasi Semburan Lumpur Sidoarjo

Oleh Rizki Amalia

Jurusan Geofisika Angkatan 42

Akademi Meteorologi dan Geofisika

Semburan lumpur di daerah Sidoarjo yang lebih dikenal dengan lumpur sidoarjo (LUSI) merupakan sebuah fenomena yang unik, dimana lumpur panas secara terus-menerus keluar dari dalam bumi. Proses keluarnya lumpur yang berlangsung terus menerus dapat menimbulkan potensi bencana.

Karena selain menyebabkan genangan lumpur juga dapat menyebabkan penurunan permukaan tanah (Land Subsidence) atau perubahan bentuk permukaan tanah (deformasi) pada daerah sekitar pusat semburan lumpur.

Untuk mendeteksi land subsidence maka metoda gravitasi dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mendeteksi lokasi-lokasi yang telah mengalami subsidence. Metode gravitasi yang bisa digunakan adalah metode Selisih Gravitasi (Delta g). Yaitu dilakukan dengan membandingkan harga gravitasi di suatu titik yang sama namun pada periode yang berbeda. Jika selisihnya bernilai negative maka terindikasi awal terjadi Land Subsidence.

Yang mana pengambilan datanya dilakukan oleh Tim Survey BMKG dalam selang waktu 22 hari disekitar lokasi semburan lumpur Sidoarjo.

Peta Selisih Nilai Gravitasi

Peta Selisih Nilai Gravitasi

Usut punya usut ternyata selisih gravitasi (∆g) negatif membentuk pola lingkaran berpusat di sebelah barat pusat semburan yang nilainya sebesar -0,312 mgal. Selisih harga gravitasi (∆g) negatif yang cukup besar yaitu antara -0,1 mgal hingga -0,312 mgal atau subsidence antara 32 cm hingga 101 cm terkonsentrasi sebelah barat pusat semburan, di sekitar jalur Jalan Raya Porong.

Kontur Ketinggian Di Sekitar Lokasi Semburan Lumpur

Kontur Ketinggian Di Sekitar Lokasi Semburan Lumpur

Di sebelah selatan, tenggara serta timur laut pusat semburan juga terjadi ∆g negatif.

Namun, dari peta kontur selisih gravitasi observasi tidak ada indikasi bahwa pusat semburan menjadi pusat perubahan gravitasi baik negatif ataupun positif.

Advertisements