GEMPA DI ATMOSFER SEBELUM GEMPA BUMI

Oleh I Made Kris Adi Astra
Jurusan Geofisika Angkatan 42
Akademi Meteorologi dan Geofisika

Gempabumi begitu sakral nan akrab disapa di Indonesia. Betapa tidak, ribuan gempa bervariasi dari bermagnitude besar sampai magnitude kecil, dari yang dangkal sampai yang dalam dicatat jaringan pengamat gempa negeri ini, BMKG. Gelombang yang terpancar secara tiba-tiba dari pusat gempa sukses menjadikan dirinya sebagai bencana yang tidak memberikan waktu lama untuk sebuah peringatan. Saking kompleksnya gaya yang bekerja, membuat para pakar dan para ahli mengernyitkan dahi.

Namun, saking ‘ngeri-nya’ dampak gempabumi ini memaksa para pakar untuk mencari berbagai solusi untuk dapat mem-pre-deteksi datangnya kejadian gempabumi. Tidak lebih dari belasan tahun lalu, seorang Jepang secara tidak sengaja mendapati gangguan pada gelombang elektromagnetik sebelum sebuah gempa besar melanda negeri itu. Sebuah indikasi gempa di Atmosfer.

Seiring berjalannya waktu, berbagai laporan mengenai terjadinya gangguan di ionosfer sebelum gempabumi kerap didokumentasikan. Memunculkan ilmuan-ilmuan independen garis depan dalam temuan-temuan ini. Sebutlah nama M Parrot, Hayakawa,  Katsumi Hattori, Jann-Yenq Liu, Molcanov, Seiya Uyeda dan Sergey Pulinets. Beliau-beliau ini menjumpai berbagai fenomena-fenomena anomaly di atmosfer sebelum gempabumi besar terjadi di kerak bumi. Diantaranya terjadinya gangguan pada Total Electron Content di Ionosfer beberapa jam hingga beberapa hari sebelum gempabumi. Total Electron Content adalah jumlah elektron dalam kolom vertikal (silinder) berpenampang seluas 1 m2 sepanjang lintasan sinyal perangkat GPS yang dilalui di lapisan ionosfer pada ketinggian sekitar 350 km.

 

Visualisasi Total Electron Content di Ionosfer Bumi (Nasa.gov)

Visualisasi Total Electron Content di Ionosfer Bumi (Nasa.gov)

 

Terjadinya gangguan pada propagasi sinyal Very Low Frequency (VLF) sebelum gempabumi juga banyak dilaporkan. Usaha lain juga semakin absolute, dengan meluncurkan satelit pemantau DEMETER yang diluncurkan tahun 2004 oleh CNES-Agensi Luar Angkasa Perancis. Satelit ini diorbitkan dengan tujuan memantau emisi elektromagnetik yang berasosiasi dengan gempabumi. 

 

Pengaruh Gempabumi terhadap Atmosfer (sumber gambar :spectrum.ieee.org dalam rovicky.wordpress.com)

Pengaruh Gempabumi terhadap Atmosfer (sumber gambar :spectrum.ieee.org dalam rovicky.wordpress.com)

 

Selanjutnya fenomena ‘ikut bergetarnya’ atmosfer ini membangun pemikiran-pemikiran tentang mekanisme keterkaitan atmosfer dan gempabumi. Lithospher-Atmosphere-Ionosphere Coupling adalah hasil pemikiran Molcanov dkk yang menjelaskan fenomena anomaly ini dari sudut geochemistry dan gelombang gravitasi akustik. Selainnya, sergey Pulinets mengemukakan Ionospheric Precursor of Earthquake, menjelaskan anomaly ini bersumber dari lepasnya gas-gas dalam baruan sebelum gempabumi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia tidak kalah, tahun 2007 lalu melalui LAPAN, dihajat International Workshop on Seismo-Electromagnetic Phenomena (IWSEP). Digawangi oleh peneliti Geotek LIPI pada waktu itu, Bapak Djedi S Widarto.  Memaparkan berbagai fluktuasi medan magnet, sinyal radio, dan variasi TEC sebelum gempabumi.

Sebut juga penelitian oleh Bapak Hendri Subakti dari BMKG. Dalam thesis masternya tentang variasi Total Electron Content di daerah sumatera pada Desember 2004 sampai April 2005. Disebutkan terjadi variasi Total Electron Content sehari hingga enam hari sebelum gempa besar terjadi.

Berguru dari Bapak Putu Pudja (BMKG), Bapak Hendri Subakti tadi (BMKG),  dan Bapak Drs Effendi (LAPAN), saya mencoba mengintip misteri ini. Mengambil kasus gempa Jogjakarta 27 Mei 2006 lalu. Dengan melihat nilai Total Electron Content di Ionosfer di atasnya, memang ada respons gengguan bervariasi dari satu jam hingga belasan jam sebelum gempa Jogja itu. Namun, variasi itu terjadi ketika satelit berada 1 hingga 2 derajat lintang bahkan lebih  dari epicenter. 1 derajat lintang sama dengan 110 km. Saya cukup bingung dibuatnya, mencoba mencari jawaban apakah ini disebabkan benar-benar oleh genpa Jogja? Usut punya usut, setelah melihat tabel Precursor gempabumi di Ionosfer oleh Liperovsky ternyata respons itu dapat mencapai luasan 500 km, atau kurang lebih 5 derajat lintang…..bathin saya tertolong sedikit….he!

Kesemua Ini sebuah temuan nyentrik di bidang seismologi bukan? Tapi sayang, belum terdengar luas tentang system real time yang memantau dan menganalisa berbagai fenomena ini secara komprehensif. Hal ini juga tidak lepas dari kerumitan system tersebut dan gangguan natural yang masih sulit dipisahkan.

7 responses to this post.

  1. Posted by gungws on February 27, 2009 at 12:28 am

    hmm…..hmm….hmm…
    jikalau bisaa…..ini jurnal ilmiah?klo ngga, bahasanya lebih gampang dikitlah..buat sperti ngobrol dengan anak SD,mungkin?? soale otakku ga lebih gede dari otak semut..maap y…ato mungkin karena bacanya waktu kinerja otak udah menurun drastis?hehhe

    Reply

  2. Posted by sige on March 10, 2009 at 10:58 am

    +an dikit..
    memang gejala seismo_elektromagnetik terutama setelah gempa jogja menjadi”tokoh sentral” dalam setiap pembahasan precursor (tanda-tanda)akan terjadinya gempa bumi. tapi sebelum membahas yang dalam mengenai perubahan data magnetik di ionosfer mungkin kita perlu kembali ke basic tentang penyebab terjadinya variasi magnetik.
    Selain seismo elektromagnetik sekarang juga sedang dimuat tentang Seismo_elektrik.Pada dasarnya kalao seismo_elektromagnetik itu berhubungan dengan data elektromagnetik yang didapatkan pada saat frucure batuan, data ini bisa dipakai karena variasi datanya akan didapat pada saat fructure kecil yang nantinya akan menimbulkan fructure besarnya sehingga bisa dijadikan precursore untuk fructure besar (gempa besar). sedangkan Seismo elektrik menunjukan fenomena variasi data elektromagnetik yang terekam akibat adanya fructure yang didahului oleh adanya penjalaran gelombang seismik. akibat diterimanya gelombang seismik maka di dalam bumi yang terdiri dari mineral yang mana mineral itu mempunyai ion elektrolit. akibat adanya goncangan itu ion akan berpasangan sehingga bertemunya ion + dan ion – yang kemudian terekam dalam data dipole. bedanya dengan geolistrik kalo seismo elektriktidak perlu injeksi arus listrik. Hubungannnya dengan precursor, kalo data elektrik ini disebabkan oleh fructure2 kecil bisa mengindikasikan fructure yang besar. sayangnya sampai saat ini baru analisanya hanya sampai pada kedalaman puluhan meter, padahal terjadinya gempa sampai kedalaman puluhan kilometer. tapi fisisnya y boleh juga yang awalnya dari mekanik timbul elektrik jadi precursor, tapi belum bisa untuk gempa…Tks

    Reply

    • Posted by geofisika42 on March 17, 2009 at 11:07 pm

      Terima kasih atas perhatiannya pada artikel ini.
      Sungguh komentar yang sangat menggugah dan penambah wawasan kami, terima kasih bpk sigit.
      Memang benar bahwa “Seismo elektrik menunjukan fenomena variasi data elektromagnetik yang terekam akibat adanya fructure yang didahului oleh adanya penjalaran gelombang seismik. akibat diterimanya gelombang seismik maka di dalam bumi yang terdiri dari mineral yang mana mineral itu mempunyai ion elektrolit. akibat adanya goncangan itu ion akan berpasangan sehingga bertemunya ion + dan ion – yang kemudian terekam dalam data dipole. bedanya dengan geolistrik kalo seismo elektriktidak perlu injeksi arus listrik(pada komment bpk sigit)”
      Namun dalam mekanisme Seismo Ionosphreric coupling yang dikemukakan oleh Sergey Pulinets, ada banyak anomaly yang timbul di atmosfer khususnya di ionosfer. dan sangat benar bila gejala geomagnet sebelum gempabumi terjadi tidak begitu jauh dari permukaan bumi. maka dari itu para ilmuan jepang (Yumoto) memasang magnetometer dengan sensitivitas tinggi di Pan Pasific dalam program MAGDAS.
      selanjutnya dibahas diatas adalah terganggunya konsentrasi elektron di ionosfer atau Total electron content atau densitas electron di ionosfer sebelum gempabumi (bukan perubahan data magnetik di ionosfer).
      karena sudah diketahui bahwa anomaly magnetik terlebih geomagnetik bersifat relatif lokal pada kerak bumi.
      Penyebab gangguan densitas elektron di ionosfer tersebut yang dikemukakan oleh Sergey Pilinets adalah terlepasnya gas2 dan molekul air dari fracture batuan, yang kemudian terionisasi dan membentuk Acoustic Gravity Waves, selanjutnya terbentuknya cluster ion netral hingga gangguan densitas elektron.

      mari berdiskusi untuk menambah wawasan kami, saran dan masukan sangat kami butuhkan…terima kasih. best regard!

      Reply

  3. Posted by si LUGU on October 29, 2009 at 3:20 pm

    setuju sekali. ini sangat masuk akal. bisa di cek lagi kepanjangan dari ini semua Mr. Google akan menjawab seliput tentang HAARP
    apakah murni buatan manusia or tangan sang pencipta ?……

    Reply

  4. Posted by Geofisika 45 on May 21, 2010 at 4:07 am

    Keren penjelasanny. . .

    Reply

  5. Posted by DestiZalukhu on June 26, 2010 at 10:33 am

    @ all: apakah nilai medan magnet bumi di dataran tinggi lebih besar/kecil dari nilai medan magnet bumi di dataran rendah n dataran rendah…?? mengapa y??

    thx

    Reply

  6. Wah sip…….
    bagus artiklenya………

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: