KUNJUNGAN KUNJUNGAN DI KANTOR GEOFISIKA DENPASAR

SELAMAT DATANG DI KANTOR GEOFISIKA DENPASAR..

NIH GAMBAR GEMPA NYA..

AYO SEMANGAT ANAK ANAK..PURA PURA DENGERIN AJA YA…

AYO BELAJAR YANG BENER..PERTANYAANYA JANGAN SUSAH SUSAH YAH..HEHE

STATISTIK b VALUE

untuk mengetahui karakteristik kegempaan di suatu wilayah mempunyai banyak metode salah satunya adalah statistik seismologi. salah satu metode statistik seismologi yang banyak digunakan adalah karakteristik b value di suatu wilayah sehingga dapat diketahui bagaimana tingkat kerapuha batuan dan aktivitas seismik di wilayah tersebut.  nah di bagian ini silahkan di pelajari b value nya..monggo…

This slideshow requires JavaScript.

PETIR

supriyadi

13.06.1607

Petir terjadi akibat perpindahan muatan negatif (elektron) menuju ke muatan positif (proton).

Para ilmuwan menduga lompatan bunga api listriknya terjadi melalui beberapa tahapan:
– pemampatan muatan listrik pada awan bersangkutan
– penumpukan muatan di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif; di bagian tengah     adalah listrik bermuatan positif; sementara di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan positif.
– pada bagian dasar inilah petir biasanya terjadi.
Menurut batasan fisika, petir adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa yang mempunyai perbedaaan medan listrik prinsip dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi. Petir adalah hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energi dari pelepasan itu begitu besarnya sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat yaitu geluduk, guntur, atau halilintar. Sedemikian besarnya sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya, sebagai akibat udara yang terbelah.


Ketika akumulasi muatan listrik dalam awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik (eletric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah Bumi. Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter.
SIRKUIT LISRIK GLOBAL


Dalam cuaca cerah, beda potensial, 200,000 sampai 500,000 Volts terdapat antara permukaan bumi dan ionosfir dengan arus sekitar 2×10-12 amperes/meter2. Beda potensial ini disebabkan oleh distribusi badai guntur di permukaan bumi.

Penyebaran Muatan dalam Awan Petir

Skema Struktur Muatan di Daerah Konvektif Badai Guntur

TIPE PETIR

Tipe Petir yang paling umum terbagi atas:


1. Petir Awan ke Tanah (cloud-to-ground/CG)
Petir yang paling berbahaya dan merusak. Kebanyakan berasal dari pusat muatan yang lebih rendah dan mengalirkan muatan negatif ke tanah, walaupun kadang kadang bermuatan positif terutama pada musim dingin

2. Petir dalam Awan (Intracloud/IC)
Tipe yang paling umum terjadi antara pusat pusat muatan yang berlawanan pada awan yang sama. Biasanya kelihatan seperti cahaya yang menghambur, biasanya kelap kelip. Kadang kadang kilat keluar dari batas awan dan seperti saluran yang bercahaya pada beberapa mil terlihat seperti tipe CG

3.Petir Antar Awan (Intercloud/CC)
Terjadi antara pusat pusat muatan pada awan yang berbedaPelepasan muatan terjadi pada udara cerah antara awan awan tersebut

4. Petir Awan ke Udara (cloud-to-sky/CA)
Biasanya terjadi jika udara di sekitar awan ( +) berinteraksi dengan udara yang bermuatan ( – ).Jika ini terjadi pada awan bagian bawah maka merupakan kombinasi dengan petir tipe CG. Petir AC tampak seperti jari jari yang berasal dari petir CG

Tipe Petir berdasarkan muatannya:

1. PETIR NEGATIVE (-)
Biasanya terjadi sambaran berulang ulang dan bercabang cabang

2. PETIR POSITIVE (+)

Biasanya terjadi hanya satu kali sambara

Tipe Petir Lainnya
Ada banyak nama dan keterangan tipe dan bentuk petir. Beberapa adalah sub tipe dari ke empat tipe petir dan yang lainnya berdasarkan gambaran optik, bentuk tampilan dan mitos.
Beberapa tipe yang terkenal : ball lightning, heat lightning, bead lightning, sheet lightning, silent lightning, black lightning, ribbon lightning, colored lightning, tubular lightning, meandering lightning, cloud-to-air lightning, stratospheric lightning, red sprites, blue jets, and elves


BALL LIGHTNING(PETIR BOLA): Pelepasan muatan listrik electrical yang secara kasar berbentuk bola dan berdiameter sampai 10 meter serta terjadi bersama sama dengan badai guntur. Foto dokumentasinya jarang dan sering salah terka seolah olah seperti UFO

HEAT LIGHTNING (PETIR PANAS):Terlihat di alam hari pada jika langit cerah. Awan Cb, cumulonimbus,(biasanya pada horizon atau pegunungan sekitarnya)tidak terlihat. Jenis sambaran bisa CC,CG atau IC.

SHEET LIGHTNING( PETIR YANG BERBENTUK SPREI TIPIS) Awan yang terang dari cahaya petir berada diantara pengamat dan sambaran petir yang tidak terlihat. Sambaran berasal darai cc, cg, atau ic.

Bead Lightning (Petir Manik Manik) Intensitas cahaya berubah ubah sepanjang saluran sehingga menyerupai kalung manik manik, juga dikenal sebagai petir gelang atau petir mutiara

Ribbon Lightning Petir ini terjadi karena saluran petir bergerak kesamping akibat angin atau karena saluran yang berkelok.

Gempabumi dan Lempeng Tektonik

Gempabumi dan Lempeng Tektonik

Gempa bumi merupakan fenomana alam dimana terjadi prose
s pelepasan energi yang terakumulasi selama kurun waktu tertentu secara tiba-tiba akibat adanya pergerakan lempeng tektonik di dalam bumi.

Menurut teori tektonik lempeng, bagian luar bumi merupakan kulit yang tersusun oleh lempeng-lempeng tektonik yang saling bergerak. Di bagian atas disebut lapisan litosfir merupakan bagian kerak bumi yang tersusun dari material yang kaku. Lapisan ini mempunyai ketebalan sampai 80 km di daratan dan sekitar 15 km di bawah samudra. Lapisan di bawahnya disebut astenosfir yang berbentuk padat dan materinya dapat bergerak karena perbedaan tekanan.Litosfir adalah suatu lapisan kulit bumi yang kaku, lapisan ini mengapung di atas astenosfir. Litosfir bukan merupakan satu kesatuan tetapi terpisah-pisah dalam beberapa lempeng yang masing-masing bergerak dengan arah dan kecepatan yang berbeda-beda. Pergerakan tersebut disebabkan oleh adanya arus konveksi yang terjadi di dalam bumi.

Batas lempeng tektonik dapat dibedakan atas tiga bentuk utama, konvergen, divergen, dan sesar mendatar. Bentuk yang lainnya merupakan kombinasi dari tiga bentuk batas lempeng ini.

a. Pada bentuk konvergen lempeng yang satu relatif bergerak menyusup di bawah lempeng yang lain. Zona tumbukan ini diindikasikan dengan adanya palung laut (trench), dan sering disebut juga dengan zona subduksi atau zona Wadati-Benioff. Zona penunjaman ini menyusup sampai kedalaman 700 km dibawah permukaan bumi di lapisan astenosfir. Bentuk konvergen berasosiasi terhadap sumber gempa dalam dan juga gunung api.

b. Pada bentuk divergen kedua lempeng saling menjauh sehingga selalu terbentuk material baru dari dalam bumi yang menyebabkan munculnya pegunungan di dasar laut yang disebut punggung tengah samudra (mid oceanic ridge).

c. Pada tipe jenis sesar mendatar kedua lempeng saling bergerak mendatar. Sketsa jenis pertemuan lempeng tektonik dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar1.1 Sketsa jenis pertemuan lempeng tektonik

Jenis-jenis Gempabumi

Jenis-jenis gempabumi berdasarkan penyebab terjadinya

a. Gempa Bumi Vulkanik (Gunung Api)

Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung tersebut.

b. Gempa Bumi Tektonik

Gempa Bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan-kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar ke seluruh bagian bumi.

c. Gempa Bumi Runtuhan

Gempa bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah pertambangan, gempa bumi ini jarang terjadi.

d. Gempa Bumi Buatan

Gempa Bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti pada peledakan nuklir dan dinamit.

Gempabumi yang terjadi di sekitar perbatasan lempeng biasa disebut gempa interplate, sedang yang terjadi pada patahan lokal yang berada pada satu lempeng disebut gempa intraplate.

Jenis Gempabumi berdasarkan bentuk pertemuan lempengnya

a. Gempa bumi yang terjadi di sepanjang sistem rift dimana lempeng samudra terbentuk. Gempa bumi yang terjadi di sepanjang sistem subduksi dimana lempeng samudra menyusup di bawah lempeng kontinen.

b.  Gempa bumi yang terjadi di sepanjang patahan transform atau sesar geser dimana pertemuan lempeng tektonik saling menggeser secara horizontal.

Tiga jalur gempa bumi utama

a. Jalur Gempa Bumi Sirkum Pasifik

Jalur ini dimulai dari Cardilleras de los Andes (Chili, Equador dan Catibia), Amerika Tengah, Mexico, California, British, Columbia, Alaska, Alaution Island, Kamchatka, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia, Polynesia dan berakhir di New Zealand.

b. Jalur Gempa Bumi Mediteran atau Trans Asiatic

Jalur ini dimulai dari Azores, Mediteran (Maroko, Portugal, Italia, Balkan, Rumania), Turki, Kaukasus, Irak, Iran, Afganistan, Himalaya, Burma, Indonesia (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Laut Banda) dan akhirnya bertemu dengan jalur Sirkum Pasifik di daerah Maluku.

c.Jalur Gempa Bumi Mid-Atlantic

Jalur ini mengikuti Mid-Atlantic Ridge yaitu Spitsbergen, Iceland dan Atlantik Selatan

Sebanyak 80 % dari gempa di dunia, terjadi di jalur Sirkum Pasifik yang sering disebut sebagai Ring of Fire karena juga merupakan jalur Vulkanik. Sedangkan pada jalur Mediteran terdapat 15 % gempa dan sisanya sebanyak 5 % tersebar di Mid Atlantic dan tempat-tempat lainnya.

Di Indonesia lokasi sumber gempabumi berawal dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian berbelok ke Utara di Sulawesi, kemudian dari Nusa Tenggara sebagian terus ke timur Maluku dan Irian.

Hanya pulau Kalimantan yang relatif tidak adasumber gempa kecuali sedikit bagian timur

Gambar 1.2. Peta sebaran episenter di Indonesia periode 1965-1995

Tipe Gempabumi menurut Mogi

a.  Tipe I     : Pada tipe ini gempa bumi utama diikuti gempa susulan tanpa didahului oleh  gempa pendahuluan (fore shock).

b. Tipe II : Sebelum terjadi gempa bumi utama, diawali dengan adanya gempa pendahuluan dan selanjutnya diikuti oleh gempa susulan yang cukup banyak.

c. Tipe III : Tidak terdapat gempa bumi utama. Magnitude dan jumlah gempabumi yang terjadi besar pada periode awal dan berkurang pada periode akhir dan biasanya dapat berlangsung cukup lama dan bisa mencapai 3 bulan. Tipe gempa ini disebut tipe swarm dan biasanya terjadi pada daerah vulkanik seperti gempa gunung Lawu pada tahun 1979.

Jenis Gempa bumi Berdasarkan Kekuatannya

a. Gempabumi yang sangat besar, M > 8     SR

b. Gempabumi besar, M antara 7 – 8 SR

c. Gempabumi merusak, M antara 5 – 6 SR

d. Gempabumi sedang, M antara 4 – 5 SR

e. Gempabumi kecil, M antara 3 – 4 SR

f.  Gempabumi mikro, M antara 1 – 3 SR

g. Gempabumi ultramikro, M < 1 SR

Jenis Gempabumi berdasarkan Kedalaman Sumber

a. Gempa bumi dalam yaitu gempa bumi dengan kedalaman (h) > 450 km

b.  Gempa bumi menengah yaitu gempa bumi dengan kedalaman (h) 66 – 450 km

c. Gempa bumi dangkal yaitu gempa bumi dengan kedalaman (h) 0 – 65 km

Gelombang Seismik dan Persamaan Gelombang

Gelombang seismik

Gelombang Seismik adalah gelombang elastik yang menjalar ke seluruh bagian dalam bumi dan melalui permukaan bumi, akibat adanya lapisan batuan yang patah secara tiba tiba atau adanya suatu ledakan.

Gelombang utama gempa bumi terdiri dari dua tipe yaitu :

a. Gelombang Bodi (Body Waves)

Gelombang bodi merupakan gelombang yang menjalar melalui bagian dalam bumi dan dapat menjalar ke segala arah di dalam bumi.

Gelombang ini dibedakan lagi menjadi dua tipe yaitu :

- Gelombang Primer (P)

Gelombang yang arah rambatnya sejajar dengan arah getar partikel medium yang dilaluinya. Gelombang primer kecepatannya paling tinggi diantara gelombang yang lain dan tiba pertama kali. Gelombang ini disebut juga gelombang longitudinal atau gelombang kompresional. Menurut Poisson kecepatan gelombang P mempunyai √3 dari kecepatan gelombang S.

- Gelombang Sekunder (S)

Gelombang yang arah rambatnya tegak lurus dengan arah getar medium yang dilaluinya. Gelombang sekunder tiba setelah gelombang priner dan terdiri dari dua komponen berdasarkan arah getarnya, yaitu gerakan partikel horizontal (SH) dan gerakan partikel vertikal (SV). Gelombang ini disebut juga gelombang transversal atau gelombang shear.

b. Gelombang Permukaan (Surface Waves)

Gelombang permukaan merupakan gelombang elastik yang menjalar sepanjang permukaan bumi (tide waves), karena gelombang ini terikat harus menjalar melalui suatu lapisan atau permukaan. Gelombang ini terdiri dari :

- Gelombang Love (L) dan Gelombang Rayleigh (R)

Gelombang ini menjalar melaui permukaan bebas dari bumi. Gelombang L gerakan partikelnya sama dengan gelombang SH dan memerlukan media yang berlapis. Gelombang R lintasan gerak partikelnya merupakan suatu bentuk ellips. Bidang ellips ini vertikal dan berimpit demgan arah penjalarannya. Gerakan partikelnya ke belakang (bawah maju atas mundur). Gelombang R menjalar melalui permukaan media yang homogen.

- Gelombang Stonely

Gelombang ini arah penjalarannya seperti gelombang R tetapi menjalar melalui batas antara dua lapisan di dalam bumi.

- Gelombang Channel

Gelombang ini menjalar melalui lapisan yang berkecepatan rendah (low velocity layer) di dalam bumi.

Gambar 1.3. Penjalaran Gelombang Seismik

kurva waktu jalar terhadap jarak episenter (ES) untuk gelombang langsung, dipantulkan dan dibiaskan sebagai berikut:

Gambar 3.6. Kurva waktu jalar terhadap jarak episenter; garis 1,2 dan 3 berturut-turut  menunjukkan waktu jalar gelombang langsung, bias dan pantul; EXcr adalah jarak kritis; EXco adalah jarak cross over; sedang S1, S2, dan S3 adalah stasiun pengamat.

Terlihat pada gambar diatas , bahwa pada jarak ES hanya akan  mencatat gelombang langsung dan gelombang yang hanya dipantulkan. Pada jarak episenter lebih besar atau sama dengan EXCr stasiun akan merekam gelombang yang dibiaskan disamping gelombang yang langsung maupun yang dipantulkan. Jarak EXCr ini dikenal sebagai jarak kritis.

Dari kurva tersebut dapat dianalisis bahwa gelombang yang dipantulkan tidak pernah tiba lebih awal di stasiun pencatat. Pada jarak lebih besar atau sama dengan jarak Cross Over ( EXCo ), gelombang yang lebih dahulu sampai di stasiun pencatat dan sebaliknya untuk jarak yang lebih kecil dari EXCo maka gelombang yang langsung akan sampai lebih dahulu.

Sebagai petunjuk analisis pembacaan seismogram, prinsip-prinsip berikut dapat dipakai:

  • Periode dominan gelombang crustal seperti Pg, P*, Pn, Sg, S*, Sn, dsb umumnya adalah kurang dari satu detik. Dalam hal ini catatan terbaik jika dilihat pada seismograf periode pendek.
  • Amplitude gelombang S lebih besar dari P, dan biasanya terbaca jelas pada komponen horizontal.
  • Pada jarak episenter kurang dari 200 km (tergantung pada model struktur kerak dan kedalaman fokus), gelombang yang pertama datang adalah Pg dan jika lebih dari 200 km gelombang yang datang lebih dulu adalah Pn.
  • Gempa permukaan (sangat dangkal) yang jarak episenternya kurang dari 600 km, sering menimbulkan gelombang permukaan Rayleigh (Rg) dan kelihatan jelas pada catatan seismograf komponen vertikal.
  • Gempa lokal dan regional yang tidak besar lamanya catatan dalam seismogram (duration time) hanya beberapa menit.
  • Untuk memudahkan pembacaan sebaiknya dilakukan dengan banyak stasiun, agar dapat membandingkannya.

MAGNITUDO GEMPA BUMI

Magnitudo merupakan kekuatan dari gempa bumi yaitu mempresentasikan energi yang dipancarkan sumber gempa bumi dalam bentuk pancaran gelombang seismik. Penentuan magnitudo dari berbagai stasiun pencatat gempa untuk gempa yang sama harusnya mempunyai harga yang hampir sama (dengan batas toleransi 0,2 – 0,3). Seorang seismologist Amerika, CF. Richter pada tahun 1935 untuk pertama kalinya memperkenalkan konsep tentang perhitungan magnitudo berdasarkan seismograf Wood Anderson. Secara umum rumusan magnitudo sebagai berikut :

M = Log (A/T) + f (∆,h) +Cs + Cr    (2.4-a)

Dimana :

M  = Magnitudo

A  = Amplitudo gerakan tanah (μm)

T  = Periode gelombang (sekon)

∆  = Jarak episenter (derajat)

h  = Kedalaman fokus

Cs = Koreksi stasiun

Cr = Koreksi regional

Dari rumusan empiris diatas harga magnitudo tidak ada batasnya. Tetapi karena kekuatan (strength) batuan dalam menahan akumulasi stress (energi) terbatas maka besaran atau harga magnitudo gempa menjadi terbatas. Ada beberapa istilah magnitudo yang biasa digunakan diantaranya :

Magnitudo Lokal (ML)

Magnitudo ini pertama kali ditemukan oleh Richter (1935) unutk mendeteksi gempa-gempa lokal di sekitar California selatan. Seismograf yang digunakan saat itu seismograf  Wood Anderson derngan konstanta-konstanta : T (periode batas) = 0,8 ; Magnifikasi maksimum = 2800 ; faktor dumping = 0,8 ; seismograf terletak pada jarak kurang dari 100 km dari episenter. Persamaannya yaitu :

ML = Log A – Log ∆                           (2.4-b)

Dimana :

ML = Magitudo lokal

A  = Amplitudo maksimum getaran tanah (μm)

∆  = Jarak stasiun pencatat ke sumber gempa bumi (km) dengan ∆ ≤ 600 Km

Sedangkan magnitudo untuk gempa-gempa di luar jarak ini juga dapat dihitung    asalkan jarak episenter ke stasiun dan amplitudonya diketahui.

Magnitudo Gelombang Permukaan (MB)

Magnitudo ini didefinisikan berdasarkan catatan amplitudo dari gelombang P yang menjalar melalui bagian dalam bumi (Lay. T dan Wallace.T.C. 1995). Persamaan umumnya yaitu :

MB = Log (A/T) + f (∆,h)                    (2.4-c)

Dimana :

MB = Magnitudo gelombang badan

A   = Amplitudo gerakan tanah (μm)

T   = Periode (sekon)

∆   = Jarak episenter (km)

h   = Kedalaman fokus (km)

Persamaan ini digunakan oleh Gutenberg (1945), untuk gelombang badan yang lain (p, pp, s) untuk berbagai kedalaman.

Magnitudo Gelombang Permukaan (MS)

Magnitudo tipe ini didapatkan sebagai hasil pengukuran terhadap gelombang permukaan (surface waves). Untuk jarak ∆ > 600 km seismogram periode panjang (long periode seismogram) dari gempa bumi dangkal didominasi oleh gelombang permukaaan, gelombang ini biasanya mempunyai periode sekitar 20 detik. Persamaan umumnya yaitu :

MS = Log A + C1 Log ∆ + C2          (2.4-d)

Dimana :

MS = Magnitudo gelombang permukaan

A = Amplitudo maksimum dari pergeseran tanah horizontal pada periode 20 detik (μm)

∆   = Jarak episenter ( km)

C1, C2   = Koefisien dan konstanta yang didapatkan dengan pendekatan empiris.

Magnitudo Durasi (MD)

Menurut Lee Stewart (1981), sejak tahun 1972, studi mengenai kekuatan gempa bumi dikembangkan pada penggunaan durasi sinyal gempa bumi untuk menghitung magnitudo bagi kejadian gempa lokal. Magnitudo durasi merupakan fungsi dari total durasi sinyal seismik (Massinon. B,1986). Ada beberapa rumusan magnitudo yang biasa digunakan, diantaranya yaitu :

Bisztricsany (1958)

MD = a Log t + b ∆ + c                     (2.4-e)

Tsumura (1967)

MD = a + b Log D + c R + d h          (2.4-f)

Alveerez (1990)

MD = a Log D + b                            (2.4-g)

Dimana :

MD = Magnitude Durasi

T dan D  = Lamanya getaran (sekon)

∆            = Jarak hiposenter (km)

R           = Jarak episenter (km)

h            = Kedalaman pusat gempa

a, b, c, dan d konstanta

PERALATAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA SATASIUN GEOFISIKA DENPASAR

1. SEISMOGRAPH                                                                                                                                                     by  Melki Adi Kurniawan

Seismometer (bahasa Yunani: seismos: gempa bumi dan metero: mengukur) adalah alat atau sensor getaran, yang biasanya dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram. Seismograf memiliki instrumen sensitif yang dapat mendeteksi gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang seismik yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram. Seismologist mengukur garis-garis ini dan menghitung besaran gempa. Seismograf menggunakan dua klasifikasi yang berbeda untuk mengukur gelombang seismik yang dihasilkan gempa, yaitu besaran gempa dan intensitas gempa. Kedua klasifikasi pengukuran ini menggunakan skala pengukuran yang berbeda pula. Skala pengukuran gempa tersebut terdiri dari Skala Richter dan Skala Mercalli. Skala Richter digunakan untuk menggambarkan besaran gempa sedangkan Skala Mercalli digunakan untuk menunjukkan intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung, dan manusia.

2. ACCELEROGRAPH

Accelerograph atau Strong Motion Seismograph adalah instrument yang digunakan untuk merekam guncangan permukaan tanah yang sangat kuat yang mengukur percepatan permukaan tanah. Pada umumnya peralatan Accelerograph ditempatkan pada daerah-daerah perkotaan yang populasinya lebih padat akan penduduk, dimana diperuntukkan untuk investigasi variasi terhadap response guncangan/getaran karena struktur geologi setempat. Dengan adanya informasi dari accelerograph terhadap gempa-gempa kecil dan kuat dapat dicirikan karakteristik semua jenis permukaan tanah yang dapat digunakan untuk kontruksi bangunan. Daerah rawan gempabumi dapat dirancang konstruksi bangunannya sebelum gempabumi yang besar terjadi. Rekaman getaran tanah akan sangat berarti pembuatan Building code untuk keamanan bangunan.

3. BAROMETER AIR RAKSA

Membandingkan perbedaan tinggi air raksa dalam tabung gelas dan di dalam bejana. Barometer air raksa berfungsi untuk mengukur tekanan udara. Terdiri dari tabung gelas berisi air raksa, bagian atasnya tertutup dan bagian bawahnya terbuka dimasukkan ke dalam bejana air raksa. • Syarat penempatan : a. Ditempatkan pada ruangan yang mempunyai suhu tetap (Homogen) b. Tidak boleh kena sinar matahari langsung c. Tidak boleh kena angin langsung d. Tidak boleh dekat lalu-lintas orang e. Tidak boleh dekat meja kerja f. Penerangan jangan terlalu besar, maximum 25 watts

4. THERMOMETER BOLA BASAH DAN BOLA KERING

Merupakan thermometer air raksa dalam bejana kaca untuk mengukur suhu udara aktual yang terjadi (thermometer bola kering). Adapun thermometer bola basah adalah thermometer yang pada bola air raksa (sensor) dibungkus dengan kain basah agar suhu yang terukur adalah suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu suhu yang diperlukan agar uap air di udara dapat berkondensasi.

5. THERMOMETER MAXIMUM

Thermometer air raksa ini memiliki pipa kapiler kecil (pembuluh) didekat tempat/ tabung air raksanya, sehingga air raksa hanya bisa naik bila suhu udara meningkat, tapi tidak dapat turun kembali pada saat suhu udara mendingin. Untuk mengembalikan air raksa ketempat semula, thermometer ini harus dihentakan berkali-kali atau diarahkan dengan menggunakan magnet. Dari gambar disamping dapat diilustrasikan bahwa apabila temperatur naik dan kolom air raksa tidak terputus, maka air raksa terdesak melalui bagian yang sempit. Ujung kolom menunjukkan temperatur udara. Apabila suhu turun, kolom air raksa terputus pada bagian yang sempit setelah air raksa dalam bola temperatur menyusut. Ujung lain dari kolom air raksa tetap pada tempatnya. Untuk pengamatan suhu udara ujung kolom ini menunjukkan suhu udara karena penyusutan air raksa kecil sekali dan dapat diabaikan. Jadi Thermometer menunjukkan suhu udara tertinggi setelah terakhir dikembalikan. Thermometer dikembalikan setelah dibaca.

6. THERMOMETER MINIMUM

Thermometer minimum biasanya menggunakan alkohol untuk pendeteksi suhu udara yang terjadi. Hal ini dikarenakan alkohol memiliki titik beku lebih tinggi dibanding air raksa, sehingga cocok untuk pengukuran suhu minimum. Prinsip kerja thermometer minimum adalah dengan menggunakan sebuah penghalang (indeks) pada pipa alkohol, sehingga apabila suhu menurun akan menyebabkan indeks ikut tertarik kebawah, namun bila suhu meningkat maka indek akan tetap pada posisi dibawah. Selain itu peletakan thermometer harus miring sekitar 20-30 derajat, dengan posisi tabung alkohol berada di bawah. Hal ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan agar indek tidak dapat naik kembali bila sudah berada diposisi bawah (suhu minimum).

7. PENAKAR CURAH HUJAN BIASA

Penakar hujan ini termasuk jenis penakar hujan non-recording atau tidak dapat mencatat sendiri. Bentuknya sederhana, terdiri dari :

• Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alat.

• Bak tempat penampungan air hujan.

• Kaki yang berbentuk tabung silinder.

• Gelas penakar hujan.

8. PENAKAR HUJAN JENIS HELLMAN

Penakar hujan jenis Hellman termasuk penakar hujan yang dapat mencatat sendiri. Jika hujan turun, air hujan masuk melalui corong, kemudian terkumpul dalam tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan pelampung serta tangkainya terangkat (naik keatas). Pada tangkai pelampung terdapat tongkat pena yang gerakkannya selalu mengikuti tangkai pelampung. Gerakkan pena dicatat pada pias yang ditakkan/ digulung pada silinder jam yang dapat berputar dengan bantuan tenaga per. Jika air dalam tabung hampir penuh, pena akan mencapai tempat teratas pada pias. Setelah air mencapai atau melewati puncak lengkungan selang gelas, air dalam tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung dan tangki pelampung dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertikal. Dengan demikian jumlah curah hujan dapat dhitung/ ditentukan dengan menghitung jumlah garis-garis vertikal yang terdapat pada pias.

9. EVAPORIMETER PANCI TERBUKA

Evaporimeter panci terbuka digunakan untuk mengukur evaporasi. Makin luas permukaan panci, makin representatif atau makin mendekati penguapan yang sebenarnya terjadi pada permukaan danau, waduk, sungai dan lain-lainnya. Pengukuran evaporasi dengan menggunakan evaporimeter memerlukan perlengkapan sebagai berikut :

1. Panci Bundar Besar

2. Hook Gauge

yaitu suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Hook Gauge mempunyai bermacam-macam bentuk, sehingga cara pembacaannya berlainan.

3.Still Well

ialah bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk silinder dan mempunyai 3 buah kaki. 4. Thermometer air dan thermometer maximum/ minimum 5. Cup Counter Anemometer 6. Pondasi/ Alas 7. Penakar hujan biasa 10. PENGUKUR SINAR MATAHARI JENIS CAMPBLE STOKES Campbell Stokes Lamanya penyinaran sinar matahari dicatat dengan jalan memusatkan (memfokuskan) sinar matahari melalui bola gelas hingga fokus sinar matahari tersebut tepat mengenai pias yang khusus dibuat untuk alat ini dan meninggalkan pada jejak pias. Dipergunakannya bola gelas dimaksudkan agar alat tersebut dapat dipergunakan untuk memfokuskan sinar matahari secara terus menerus tanpa terpengaruh oleh posisi matahari. Pias ditempatkan pada kerangka cekung yang konsentrik dengan bola gelas dan sinar yang difokuskan tepat mengenai pias. Jika matahari bersinar sepanjang hari dan mengenai alat ini, maka akan diperoleh jejak pias terbakar yang tak terputus. Tetapi jika matahari bersinar terputus-putus, maka jejak dipiaspun akan terputus-putus. Dengan menjumlahkan waktu dari bagian-bagian terbakar yang terputus-putus akan diperoleh lamanya penyinaran matahari.

11. CUP COUNTER DAN WIND VANE ANEMOMETER

Pergerakan udara atau angin umumnya diukur dengan alat cup counter anemometer, yang didalamnya terdapat dua sensor, yaitu: cup – propeller sensor untuk kecepatan angin dan vane/ weather cock sensor untuk arah angin. Untuk pengamatan angin permukaan, Anemometer dipasang dengan ketinggian 10 meter dan berada di tempat terbuka yang memiliki jarak dari penghalang sejauh 10 kali dari tinggi penghalang (pohon, gedung atau sesuatu yang menjulang tinggi). Tiang anemometer dipasang menggunakan 3 buah labrang/ kawat penahan tiang, dimana salah satu kawat/labrang berada pada arah utara dari tiang anemometer dan antar labrang membentuk sudut 1200. Pemasangan penangkal petir pada tiang anemometer merupakan faktor terpenting terutama untuk daerah rawan petir. Hal ini mengingat tiang anemometer memiliki ketinggian 10 meter dengan ujung-ujung runcing yang membuatnya rawan terhadap sambaran petir.

KONSEP RUMAH TAHAN GEMPA

supriyadi

13.06.1607

Teknologi rumah tahan gempa cepat bangun
Teknologi yang biasa dikembangkan oleh berbagai pihak sebagai solusi rumah cepat bangun, biasa dibuat dari konstruksi sederhana dengan jenis bahan struktur konstruksi ringan dan penutup atap dan dinding yang ringan pula. Struktur penyangga rumah sederhana cepat bangun bisa dibuat dari rangka besi, kayu, maupun bambu. Pada prinsipnya rancangan tersebut dapat mempertahankan kekakuan struktur serta memiliki fleksibilitas untuk bergerak bersama gempa, serta mempertahankan penutup atap dan dinding pada tempatnya dengan sedikit kerusakan.
Dibawah ini terdapat leaflet pedoman praktis pembangunan rumah kayu tahan gempa yang dibuat oleh Departemen Pekerjaan Umum.

Teknologi bangunan konvensional bangunan batu-bata dengan struktur beton bertulang
Konsep hunian tahan gempa adalah bangunan yang dapat bertahan dari keruntuhan akibat getaran gempa, serta memiliki fleksibilitas untuk meredam getaran. Prinsipnya pada dasarnya ada dua: kekakuan struktur dan fleksibilitas peredaman.
Prinsip Kekakuan struktur rumah menjadikan struktur lebih solid terhadap goncangan. Terbukti, bahwa struktur kaku seperti beton bertulang bila dibuat dengan baik dapat meredam getaran gempa dengan baik. Hal ini berarti memperhatikan sungguh-sungguh struktur yang dibuat pada saat pembangunan agar dapat lebih kuat dan lebih kaku. Kekakuan struktur dapat menghindarkan kemungkinan bangunan runtuh saat gempa terjadi. Kolom-kolom dan balok pengikat harus kuat dan ditopang oleh pondasi yang baik pula.
Prinsip Fleksibilitas: Adanya kemungkinan struktur bangunan dapat bergerak dalam skala kecil, misalnya dengan menggunakan prinsip hubungan roll pada tumpuan-tumpuan beban. Yang dimaksud hubungan tumpuan roll adalah jenis hubungan pembebanan yang dapat bergerak dalam skala kecil untuk meredam getaran. Ini adalah salah satu contoh saja.
Prinsip penggunaan bahan material yang ringan dan ‘kenyal’: yaitu menggunakan bahan-bahan material ringan yang tidak lebih membahayakan bila runtuh, dan lebih ringan sehingga tidak sangat membebani struktur yang ada. Contohnya struktur kayu yang dapat menerima perpindahan hubungan antar kayu dalam skala gempa sedang.
Prinsip massa yang terpisah-pisah: yaitu memecah bangunan dalam beberapa bagian struktur yang lebih kecil, sehingga struktur ini tidak terlalu besar, terlalu panjang karena bila terkena gempa harus meredam getaran lebih besar.



Sistem pondasi yang ada saat ini yaitu pondasi tradisional dengan bahan batu kali harus diperhatikan dengan baik; antara lain diusahakan memiliki kemampuan meredam getaran dengan memberikan celah untuk bergerak pada hubungan antara pondasi dengan sloof, pondasi dengan kolom. Cara ini juga bisa didukung dengan memberikan bahan seperti pecahan kaca diantara pondasi dan sloof.
Untuk dinding, sebenarnya dinding rumah2 tradisional banyak yang sudah sesuai untuk menghadapi gempa, antara lain dinding dari bahan bambu maupun tanaman lainnya. Dinding semacam ini dapat menerima getaran gempa dengan sangat baik. Bahkan rumah-rumah joglo kuno dapat bertahan dengan baik saat gempa.
Untuk kondisi dewasa ini, bahan seperti lembaran komposit (misalnya dinding Hebel), gypsum dan bahan ringan lainnya dapat dengan baik bertahan saat gempa karena ringan dan kuatnya. Selain itu kondisi bahan lembaran solid ini dapat digabungkan dengan fleksibilitas penyambungan dengan kolom-kolom untuk meredam getaran.
Jika memakai batu bata, usahakan agar terdapat penguatan lebih banyak dengan menggunakan kolom-kolom praktis sebagai pengaku. Jangan pernah meletakkan beban atap langsung pada dinding bata. Dinding bata juga perlu untuk diberi angkur pada kolom setiap jarak susunan 8 bata. Dinding bata yang diberi angkur dapat bertahan lebih baik saat gempa karena ditahan oleh kolom dan tidak ambruk.

Jenis atap yang ringan menggunakan kayu dapat dimaksimalkan ketika menghadapi gempa dengan membuat angkur pada ring balok, dimana angkur ini diberi celah untuk bergerak dengan sistem hubungan roll. Jenis atap yang cukup baik adalah atap yang ringan, menggunakan penutup atap ringan seperti lembaran komposit, namun bahan ini kurang diminati karena secara tampilan kurang bagus dibandingkan penutup atap genteng.
Beton harus diperkuat agar tidak mudah ambruk, secara keseluruhan, kolom dan balok beton menyangga keseluruhan bangunan, karenanya bila struktur ini tidak kuat menahan gempa, maka keseluruhan bangunan juga tidak kuat. Usahakan untuk membagi bangunan dalam beberapa kelompok struktur, misalnya menggunakan prinsip dilatasi (pemisahan struktur) antara satu massa dengan massa bangunan lain. Contohnya; memisahkan area ruang keluarga dengan area kamar-kamar secara struktural (meskipun secara organisasi ruang tetap menyatu).
Bangunan dengan bahan tripleks kurang disarankan, karena mudahnya terbakar. Bahan ringan lain yang dapat disarankan sebagai pengganti adalah gypsum atau dinding komposit. Untuk kawasan ibukota, bahan-bahan tersebut secara estetis dapat diterima lebih baik. Bangunan yang atapnya dari alang2 atau jerami dapat diterima bila memang konsep bangunannya tradisional, atau memang dari awalnya tradisional, serta gaya hidup penghuninya sesuai untuk rumah tinggal tradisional (misalnya karena perawatan yang lebih banyak dibandingkan bahan atap modern). Bangunan seperti ini, digabungkan dengan cara-cara membangun tradisional seperti menggunakan kolom bambu, malah sangat baik bertahan dalam kondisi gempa.
Rancangan interior sebaiknya disesuaikan bila kita concern terhadap masalah gempa ini. Pilihlah jenis furniture yang ringan dan tidak menghalangi saat dibutuhkan evakuasi gempa.

Pada dasarnya bahan-bahan bangunan yang ada saat ini dapat ditingkatkan lagi mutunya dalam menghadapi gempa, serta diperlukan inovasi dalam pengadaan material baru yang dapat menunjang keamanan saat gempa, seperti konstruksi yang ringan, fleksibel dan kuat. Yang paling penting diperhatikan melihat tren saat ini adalah; membuat bangunan dengan cara membangun yang lebih baik, seperti memperkuat dinding dengan angkur, kolom-kolom praktis, dan sebagainya.
Ongkos membangun rumah tahan gempa secara relatif tidak banyak berbeda dengan rumah yang ada saat ini, hanya kualitas sambungan, joint antar pembebanan, jenis material yang mendukung (ringan, kuat dan fleksibel) dapat diperbanyak dan diaplikasikan dalam bangunan. Malahan saat ini terdapat material-material baru fabrikasi yang secara struktural telah teruji melalui laboratorium dan memiliki kualitas lebih baik daripada material konvensional.
Pada dasarnya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas rancangan dan bangunan terhadap gempa melalui cara-cara membangun dan jenis material. Uang yang dikeluarkan tentunya untuk membeli material-material tersebut.

ALAT ANTI GEMPA?? BENER GA??

supriyadi

13.06.1607

Ternyata, baru-baru ini peneliti telah berhasil membuat desain sebuah sistem struktur baru untuk gedung tahan gempa yang bahkan diyakini mampu bertahan saat gempa berkekuatan besar sekalipun.

Sebuah metode baru konstruksi yang menggunakan baja tendon dan “sekering” (fuses) yang bisa diganti agar bisa membantu sebuah bangunan untuk bertahan terhadap gempa bumi kuat baru-baru ini telah berhasil diuji coba, begitu yang saya baca dari situs” ujar penulis.

Seperti listrik, sistem ini punya ‘Sekering’ (Fuses)

Penjelasan sistem kerja desain gedung tahan gempa ini adalah sebagai berikut.

Bangunan pada sistem baru ini bersandar pada sebuah rangka baja (steel braced-frames) yang dibuat pada bagian eksterior bangunan. Rangka baja ini dirancang untuk bisa bergoyang ke atas dan ke bawah saat serangan gempa terjadi. Di tengah rangka baja ini terdapat tendon (urat) baja yang bergerak elastis untuk mengendalikan goyangan. Tendon ini juga berfungsi untuk mengembalikan posisi bangunan ke tempat semula saat getaran gempa sudah berhenti.

“Apa yang unik adalah, berbeda dengan sistem konvensional, rangka baja ini benar-benar bergoyang terpisah dari pondasi saat terjadi gempa besar,” begitu kata Deierlein si kepala peneliti.

‘Sekering’ baja juga turut menjaga bangunan dari kerusakan. Sekering ini berfungsi untuk menyalurkan energi gempa agar bisa membatasi kerusakan hanya pada area tertentu. Sekering ini, seperti sekering listrik, bisa diganti bila rusak.

Ide dari sistem struktur ini sebenarnya adalah untuk mengkonsentrasikan kerusakan pada sekering yang dapat diganti.

Pada gambar skematik di atas terlihat yang berwarna merah adalah rangka baja utama (steel braced-frame). Warna putih adalah simulasi gedung tiga lantai. Warna kuning adalah sekering yang terletak di dasar rangka (gambar inset). Di depan dan belakang sekering terdapat kabel baja vertikal untuk menarik gedung ke posisi semula saat gempa berhenti.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.